Pati, Mitrapost.com – Penyakit Diabetes Melitus (DM) yang tengah marak, rata-rata menyerang masyarakat di usia produktif.
Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO), saat ini di Indonesia termasuk Kabupaten Pati, orang hidup bisa mengkonsumsi manis atau gula hanya sebanyak 40-50 miligram (mg) dalam satu hari.
Akan tetapi, saat ini banyak yang mengkonsumsi manis hingga mencapai 150 mg. Dalan arti, 150 mg sering dikonsumsi tiga kali dalam satu hari.
“Kalau dikatakan dalam studi, itu yang kena diabetes melitus di usia produktif itu benar. Usia produktif itu di usia 15 tahun hingga 59 tahun. Dan sudah dipastikan usia produktif ini orang-orang yang bekerja. Kalau orang bekerja, makan dan minum akan mengkonsumsi gula,” tandasnya.
Lebih lanjut, konsumsi manis bukan hanya dari minuman, melainkan makanan juga. Dan berapa miligram makanan manis atau asin yang masuk akan berefek pada tubuh.
“Itu dalam bentuk minuman, kalau dalam makanan ya nasi gandul, gudeg, soto kemiri juga itu merupakan makanan manis, meskipun nampaknya terlihat engga, kecap yang dipakai itukan manis. Bahkan nasi goreng aja di Pati dan daerah lain masih menggunakan kecap yang manis. Selain manis, kecap juga asin, sehingga doubel,” pungkasnya.
“Ketika makanan kita manis, kita akan ambil garam, begitu juga sebaliknya. Ketika makan asin kita akan menambah manis biar gak keasinan. Yang penting kan kita rasanya, padahal berapa miligram manis atau asin yang masuk ke tubuh akan berefek,” tambah dr Joko.
Pihaknya menambahkan, ketika seseorang kebanyakan mengonsumsi manis secara otomatis sekresi insulin dari dalam pankreas akan dipacu. Dimana ketika kebanyakan dipacu, produksi sel akan rusak. Sehingga gula dalam darah akan terus naik.
“Kalau mengkonsumsi manis, maka yang perlu kita dengar juga orang yang terkena diabetes perlu suntik insulin karna sudah rusaknya insulis dalam pankreas, dalam tubuh kita,” imbuhnya. (*)