Mitrapost.com – Jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) rencananya bakal dipangkas menjadi hanya 228 perusahaan saja.
Saat ini, BUMN diketahui berjumlah 1.046. Dengan adanya pemangkasan ini, diharapkan bisa memperbaiki tata kelola BUMN.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menilai bahwa jumlah yang banyak tak menjamin negara akan meraup untung yang banyak pula. Bahkan ia menyebut jika 52 persen BUMN mengalami kerugian.
“Perlu kita komunikasikan bahwa 97% dividen dari BUMN itu datangnya dari 8 perusahaan, ini sebagai gambaran, dan 52% BUMN itu rugi, dan total kerugian itu kurang lebih direct loss dan indirect loss akibat daripada inefisiensi dalam pengelolaan itu kurang lebih sekitar Rp50 triliun setiap tahun,” ujarnya dilansir dari Detik.
Agar jumlah BUMN bisa berkurang, bakal dilakukan sejumlah cara seperti merger, akuisisi, hingga spin-off.
“Business konsolidasi ini akan ada merger dan acquisition, kurang lebih ada 300 merger yang akan terjadi. Kemudian ada spin-off, akan terjadi spin-off daripada perusahaan sehingga kembali ke core,” jelasnya.
Perusahaan yang kemungkinan akan dilakukan spin-off, jelasnya, yaitu Pertamina. Hal itu karena cakupan bisnisnya luas, sehingga spin-off dilakukan agar lebih fokus.
“Contohnya oil and gas. Kita punya Pertamina, tapi range of business-nya begitu luas, sehingga tidak fokus lagi menjadi oil and gas company. Ini nanti akan terjadi juga spin-off daripada perusahaannya. Ada hospital-nya akan keluar, hotelnya akan keluar, dan lain sebagainya. Sehingga nanti bisnis-bisnis di BUMN itu akan fokus kepada core kompetensinya,” ujarnya.
Dengan pemangkasan jumlah BUMN, diharapkan bisa membuat setiap perusahaan semakin memiliki daya saing dan mencatatkan keuntungan.
“Nanti kita harapkan dari 1046 ini akan menjadi 228 perusahaan. Ini perlu kami komunikasikan supaya nanti kita memiliki visi bahwa 228 perusahaan ini nantinya akan menjadi perusahaan yang scalable, mampu berkompetisi, memiliki business model yang proper, revenue stream yang proper, dan dikelola secara transparan,” jelasnya.
Pihaknya juga mengaku akan mengaudit kinerja BUMN dengan teliti agar tak ada laporan keuangan abal-abal.
“Sebagaimana tadi kita mendengar Presiden juga berharap bahwa tidak ada lagi perusahaan yang keuntungannya itu karena keuntungan abal-abalan. Kita juga sampaikan kepada publik dalam 6 bulan ini kita melakukan restate. Karena pembukuan yang kurang proper, kita melakukan restate terhadap bukunya, dan ada beberapa lagi yang akan kita restate,” jelasnya.
“Tetapi ini sekali lagi bukan kita ingin memperlihatkan keburukan, tetapi sebagai base untuk kita menuju US$ 50 billion yang diharapkan oleh Bapak Presiden. Tentu fundamental daripada perusahaan ini harus kita rapikan,” lanjutnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






