Mitrapost.com – Aceh dikenal sebagai daerah yang memiliki ikatan kuat dengan nilai-nilai Islam. Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat Aceh memiliki cara khas untuk mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah.
Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah lampu colok. Tradisi ini bukan sekadar hiasan malam hari, melainkan warisan budaya yang sarat makna religius, sosial, dan kebersamaan.
Lampu colok terbuat dari wadah sederhana yang diisi minyak tanah atau minyak kelapa dengan sumbu kecil. Pada malam perayaan Maulid, lampu-lampu ini disusun di halaman rumah, masjid, hingga jalan-jalan kampung.
Ketika dinyalakan bersamaan, ribuan cahaya kecil berpadu menciptakan suasana yang begitu hangat dan syahdu. Cahaya yang berderet seakan menghadirkan nuansa magis sekaligus khidmat, mengingatkan kehadiran Rasulullah sebagai pembawa cahaya petunjuk bagi umat manusia.
Secara filosofis, cahaya lampu colok melambangkan penerang dalam kegelapan. Seperti sabda Allah dalam Al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW diutus sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107).
Kehadiran beliau diibaratkan cahaya yang menuntun manusia dari gelapnya kebodohan menuju terang pengetahuan dan keimanan.
Itulah sebabnya, masyarakat Aceh menyalakan lampu colok di malam Maulid sebagai simbol rasa syukur atas kelahiran Nabi, sekaligus doa agar hidup mereka senantiasa diterangi cahaya hidayah.
Selain itu, tradisi ini juga berdampak pada sektor pariwisata. Setiap tahun, wisatawan dari dalam maupun luar daerah datang untuk menyaksikan keindahan cahaya lampu colok di Aceh.
Beberapa daerah seperti Aceh Besar dan Pidie bahkan menjadi pusat perhatian karena mampu menampilkan ribuan lampu colok yang ditata dengan artistik.
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh tahun 2024 mencatat bahwa perayaan Maulid dengan lampu colok berhasil menarik ratusan pengunjung dan secara tidak langsung membantu menggerakkan perekonomian masyarakat, mulai dari pedagang makanan, penyedia jasa transportasi, hingga pengrajin tradisional.
Meski zaman terus berubah dengan hadirnya teknologi modern, masyarakat Aceh tetap mempertahankan tradisi ini, sebagai bukti bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya diwujudkan dengan ibadah ritual, tetapi juga simbol budaya yang menghidupkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan sosial.
Dengan demikian, lampu colok bukan hanya pesta cahaya yang indah dipandang, melainkan juga warisan yang menyatukan spiritualitas, budaya, dan kebersamaan. (*)

Redaksi Mitrapost.com