Semarang, Mitrapost.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) bersinergi untuk terus mengkonsolidasikan pengaturan pembuangan air yang ada di kawasan Kaligawe dan sekitarnya.
Dalam hal ini, pihaknya bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan merencanakan pembuatan Induk Pengelolaan Air Terpadu pasca penanganan banjir yang telah melanda kawasan Kaligawe, Kota Semarang terhitung selama 11 hari.
Rencana yang dikatakan langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti ini membawa harapan besar, bahwa nantinya setiap daerah akan memiliki sistem pembuangan dan retensi air yang saling terhubung dan terkendali satu sama lain.
“Setelah banjir ini selesai, kami akan duduk bersama dengan pihak Kementerian PUPR, PSDA, dan semua stakeholder terkait untuk membangun manajemen pengelolaan air yang lebih baik. Ini bukan sekadar proyek fisik, tapi juga upaya menjaga keberlanjutan kota,” jelas Agustina.
Perlu diketahui, rencana Induk Pengelolaan Air Terpadu merupakan sebuah konsep pendekatan yang lebih dikenal dengan sebutan Integrated Water Resources Management (IWRM). Bagi Pemkot Semarang, rencana ini dijalankan dengan mengintegrasikan sistem drainase, khususnya di wilayah timur kota.
IWRM menjadi pendekatan atas kebijakan yang terintegrasi untuk mengelola air, lahan, dan sumber daya terkait dalam satu wilayah sungai dengan tujuan kesejahteraan ekonomi dan sosial, tanpa mengorbankan ekosistem yang sudah ada.
Salah satu bagian dari upaya mewujudkan sistem pengelolaan air terpadu ini, ialah adanya sejumlah proyek fisik yang baru mulai dibangun, seperti pembangunan sodetan baru di kawasan Kaligawe yang melibatkan tanah hibah dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula).
Selain itu, Wali Kota juga telah menyoroti adanya inisiatif Unissula untuk menyediakan kolam retensi dan pompa air mandiri di lingkungannya, yang menunjukkan komitmen perguruan tinggi terkait keberlangsungan lingkungan sekitar serta ketahanan kota terhadap bencana yang sering menimpa.
“Unissula sudah punya kolam retensi yang besar dan berfungsi baik. Bahkan mereka juga menyiapkan pompa sendiri untuk membantu kawasan sekitarnya. Ini contoh baik yang patut ditiru,” ucapnya.
Agustina juga berharap, seluruh sinergi yang dikerahkan antara dunia pendidikan, masyarakat, dan pemerintah ini nantinya dapat mengatasi banjir di Jalur Pantura Kaligawe secara signifikan, sekaligus menjadi contoh dalam pembangunan infrastruktur yang berorientasi pada kemaslahatan bersama. (Adv)

Redaksi Mitrapost.com






