Mitrapost.com – Sejak sebulan lalu, Amerika Serikat (AS) mengalami kurangnya staf pengontrol lalu lintas udara di 42 menara bandara dan pusat-pusat lainnya yang bekerja tanpa gaji, di tengah kondisi penutupan pemerintahan (government shutdown).
Kondisi ini membuat Federal Aviation Administration (FAA) membatasi aktivitas maskapai penerbangan besar dengan pengurangan sebanyak 4% sejak Jumat (07/11/2025) selama 40 hari, hingga berdampak pada terlambatnya upah para pekerja yang berada di jalur lintas udara.
Melansir dari Detik Finance, pengurangan penerbangan ini nantinya akan naik hingga 6% pada Selasa (11/11/2025) mendatang, dan terus direncanakan kenaikannya pada Jumat (14/11/2025) sebesar 10%, yang dialami oleh sebanyak 40 bandara utama.
Sementara sebanyak 40 bandara utama yang mengalami pengurangan tersebut berada di 12 kota besar AS, termasuk beberapa di antaranya ada di Atlanta, Newark, San Francisco, Chicago dan New York.
Tercatat pada Sabtu (08/11/2025), sebanyak 1.550 penerbangan berhasil dibatalkan dengan 6.700 lainnya dalam proses penundaan. Jumlah tersebut terus naik di hari sebelumnya yang berada dalam angka 1.025 pembatalan dan 7.000 penundaan penerbangan.
Dari banyaknya jumlah tersebut, empat maskapai besar AS yang mengalami, di antaranya ada American Airlines, Delta Air Lines, Southwest Airlines, dan United Airlines, dengan 13.000 staf pengontrol lalu lintas udara dan 50.000 petugas keamanan yang bekerja tanpa bayaram.
Ramainya kondisi ini membuat beberapa manajemen maskapai tersebut membuka suaranya. Menurutnya, para perusahaan maskapai hampir mustahil menjadwalkan ulang sumpah penerbangan, bahkan hingga masalah kepegawaian. (*)

Redaksi Mitrapost.com






