Mitrapost.com – Krisis lingkungan paling mematikan di Iran semakin rumit, karena adanya kaitan antara masalah udara, air, hingga energi. Kondisi ini mengakibatkan tewasnya 161 jiwa per hari dan total 58.975 jiwa yang dimulai sejak Maret 2024.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian memperingatkan kepada masyarakat terkait solusi relokasi ibu kota yang kemungkinkan dapat menjadi langkah tidak terhindarkan, karena masalah kepadatan penduduk dan tekanan ekologis dilaporkan terus meningkat.
Melansir dari CNBC Indonesia, wilayah Iran tenggara diincar sebagai salah satu lokasi potensial yang dijadikan sebagai relokasi ibu kota. Meski begitu, Pezeshkian tetap meminta warga untuk selalu menjaga lingkungan.
“Melindungi lingkungan bukanlah lelucon. Mengabaikannya berarti menandatangani kehancuran kita sendiri,” tegas Pezeshkian.
Hal ini terjadi lantaran adanya penurunan cadangan air akibat kekeringan berhasil membatasi produksi pertanian hingga menimbulkan kekhawatiran yang luas mengenai ketahanan pangan di kawasan yang rantai pasokannya saling terkait.
Kemudian, kekurangan pasokan gas juga telah memaksa otoritas untuk menerapkan penjatahan listrik dan pemadaman secara berkala, sementara kelangkaan air juga sedang terjadi hingga menyebabkan penjatahan di beberapa bagian Ibu Kota Tehran.
Sumber utama polusi udara kotor yang kronis ini disebut adanya emisi industri, lalu lintas padat dari kendaraan tua, hingga pembakaran bahan bakar dengan kualitas rendah di pembangkit listrik.
Kerentanan politik negara juga dipertajam oleh adanya kesulitan ekonomi yang disebabkan konvergensi polusi, kelangkaan air, dan masalah infrastruktur.
Tekanan lingkungan berhasil menjadi katalisator persisten bagi frustrasi publik, berkontribusi pada kerusuhan berkala di komunitas yang paling terpukul oleh kekeringan dan penurunan layanan publik. (*)

Redaksi Mitrapost.com






