Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Jateng Naik, Didominasi KS dan KDRT

Mitrapost.comKasus kekerasan perempuan dan anak di Jawa Tengah naik. Dimana tercatat ada 2.633 korban kekerasan sepanjang Januari-November 2025. Sedangkan kasus kekerasan pada Januari-Desember 2024 ada 2.368 korban.

Dari jumlah kasus di tahun 2025, korban perempuan ada 1.075 orang dan anak ada 1.558 orang.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Ema Rachmawati mengungkapkan bahwa kasus kekerasan perempuan dan anak didominasi kasus kekerasan seksual dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Ini masih menjadi catatan kita ya, isu perlindungan perempuan dan anak terutama di isu kekerasan itu memang masih meningkat gitu ya dari tahun 2024 ke 2025 naik,” ujarnya dilansir dari Kompas.

Sedangkan pelaku kekerasan paling banyak berasal dari orang terdekat. Kenyataan itu membuat pihaknya prihatin.

“Paling banyak adalah kasus kekerasan seksual. Itu sangat memprihatinkan karena seharusnya anak mendapatkan perlindungan tapi mereka menjadi korban. Kemudian yang perempuan juga paling banyak adalah KDRT,” paparnya.

Data DP3AP2KB Jawa Tengah menunjukkan ada 546 perempuan yang mengalami kekerasan fisik, 506 korban kekerasan psikis, 211 korban kekerasan seksual, serta sisanya merupakan korban penelantaran, perdagangan manusia, eksploitasi, dan bentuk kekerasan lainnya.

Kemudian kelompok anak diantaranya tercatat ada 817 korban kekerasan seksual, 453 korban kekerasan psikis, 294 korban kekerasan fisik, serta korban penelantaran, perdagangan manusia, eksploitasi, dan lainnya.

“Itu yang memang masih banyak dan itu terjadi paling banyak justru di dalam rumah. Artinya perempuan dan anak di rumah pun yang harusnya aman menjadi tidak aman. Ini yang harus diperkuat adalah bagaimana keluarga itu bisa melindungi anak,” jelasnya.

Sementara itu, wilayah dengan kasus kekerasan perempuan paling banyak ada di Kota Semarang dengan 152 kasus. Kemudian Sukoharjo 73 kasus, Kabupaten Semarang 63 kasus, Solo 56 kasus, dan Wonosobo 53 kasus.

Kasus kekerasan pada anak di Kota Semarang juga menjadi tertinggi di Jateng dengan 167 kasus. Kemudian Cilacap 121 kasus, Solo 100 kasus, Kabupaten Semarang 82 kasus, dan Sukoharjo 78 kasus.

Tak hanya di dunia nyata, kasus kekerasan berbasis gender online (KGBO) juga marak terjadi di dunia maya.

“Selain bullying di sekolahan, KGBO mulai meningkat di ruang public. Ini jadi ancaman. Mungkin dia tadinya pacaran terus disuruh buka-buka digunakan untuk mengancam dan sebagainya. Orang asing juga bisa menjadi pelaku, artinya tidak lagi dilakukan oleh orang-orang terdekat,” jelasnya. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati