Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di sekitar level Rp9.168,36 pada 20 Januari 2026, namun mengalami pelemahan di level Rp9.094,43 saat pembukaan pada 21 Januari 2026 tadi.
Hal ini diperkirakan terjadi karena pasar global dan domestik cenderung mengalami tekanan pembelian. Bursa saham Asia cenderung melemah, sehingga memicu aksi profit taking di akhir Januari.
Sementara, investor domestik tampaknya berhati-hati menjelang pengumuman kebijakan suku bunga BI, sehingga kenaikan IHSG pada hari sebelumnya cukup terbatas.
Kondisi IHSG ini mendukung trading pendek dan menengah, sekitar 1–5 hari, namun tetap selektif. Maka dari itu, berikut kami rangkum beberapa saham potensial listing BEI yang diperkirakan akan mengalami kenaikan harga pada 22 Januari 2026!
GZCO – PT Gozco Plantations, Tbk
Saham GZCO ditutup di level harga Rp268 pada 20 Januari 2026, kemudian diperkirakan mengalami kenaikan hingga 8-15% atau sekitar Rp289 hingga Rp308 pada 22 Januari 2026.
Menurut fundamentalnya, perusahaan dengan kode saham ini bergerak di sektor agribisnis dengan eksposur komoditas sawit yang relevan pada tren permintaan global. Prospek pertumbuhan laba didukung harga CPO yang relatif kuat di awal 2026.
Berdasarkan indikator teknikal, RSI, Stochastic, MACD, CCI, ROC, dan Bull/Bear Power sebagian besar menunjukkan sinyal Buy. Moving average di timeframe harian banyak memberi sinyal Buy (MA5–MA50), meskipun MA200 masih sedikit Sell.
INET – PT Sinergi Inti Andalan Prima, Tbk
Saham INET ditutup di level harga Rp555 pada 20 Januari 2026, kemudian diperkirakan mengalami kenaikan hingga 10-18% atau sekitar Rp611 hingga Rp655 pada 22 Januari 2026.
Perusahaan bergerak di sektor infrastruktur/logistik energi yang masih dibutuhkan. Berdasarkan analisis keuangan, pertumbuhan revenue dan laba tetap kuat. Selain itu, posisi neraca sehat dan likuid, serta prospek pertumbuhan di atas rata-rata
Indikator teknikal mayoritas Buy (ADX, Bull/Bear Power, ROC), serta RSI di level 51 (netral) atau tidak jenuh beli/ jual, sehingga masih ada ruang kenaikan. Tidak menunjukkan kondisi overbought ekstrem dan memungkinkan rally lanjutan tanpa koreksi tajam langsung
BUMI – PT Bumi Resources, Tbk
Saham BUMI ditutup di level harga Rp414 pada 20 Januari 2026, kemudian diperkirakan mengalami kenaikan hingga 7-12% atau sekitar Rp443 hingga Rp464 pada 22 Januari 2026.
Analisis fundamental menunjukkan bahwa emiten sektor batubara besar seperti PT Bumi Resources, Tbk mendapat sorotan karena rebound harga komoditas energi. Sektor komoditas ini masih menjadi pendorong kenaikan IHSG.
Sementara, menurut indikator teknikal, ATR yang mengukur volatilitas relatif tinggi, menyiratkan potensi profit lebih besar tapi juga risiko lebih tinggi, sehingga lebih cocok bagi trader yang disiplin stop loss.
RSI netral berarti masih ada ruang baik untuk naik ataupun turun tergantung katalis dominan hari itu. Namun, beberapa indikator, seperti MA mayoritas berada di sinyal Sell pada MA jangka pendek (MA5, MA10, MA50)
JPFA – PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk
Saham BUMI ditutup di level harga Rp2.930 pada 20 Januari 2026, kemudian diperkirakan mengalami kenaikan hingga 6-10% atau sekitar Rp3.100 hingga Rp3.200 pada 22 Januari 2026.
Perusahaan sektor agrikultur dan pakan ternak ini memiliki kinerja saham cenderung stabil, terlebih meningkatnya permintaan domestik seiring program MBG. Selain itu, pivot bullish pada area support yang menarik untuk entry swing. Namun, risiko margin dipengaruhi fluktuasi harga bahan baku pakan.
PGAS – PT Perusahaan Gas Negara, Tbk
Saham BUMI ditutup di level harga Rp2.080 pada 20 Januari 2026, kemudian diperkirakan mengalami kenaikan hingga 6-11% atau sekitar Rp2.200 hingga Rp2.300 pada 22 Januari 2026.
Hal ini berdasarkan pendapatan relatif defensif sektor utilitas di tengah volatilitas pasar. Sementara, teknikalnya menunjukkan prospek rebound swing dari area support jangka pendek jika IHSG tetap di atas support penting. (*)
Redaksi Mitrapost.com






