Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di level 8.951,01 pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026).
Kondisi ini dapat terjadi karena aksi profit taking dan kekhawatiran fundamental makro domestik. Selain itu, sentimen global dan tekanan rupiah melemah turut membebani IHSG.
Meski begitu, indeks pernah menguat signifikan di awal tahun. Namun ada kemungkinan IHSG meningkat dalam jangka panjang jika sentimen global membaik.
Oleh karena itu, berikut 5 saham yang berpotensi mengalami pergerakan harga signifikan pada Senin (26/1/2026).
BBCA – Bank Central Asia Tbk
Saham ini ditutup pada angka Rp7.650 di penutupan perdagangan pada Jumat (23/1/2026). Saham ini diprediksi dapat mencapai level Rp8.000 — Rp8.800.
Hal itu didukung fundamental bank BCA yang merupakan bank terbesar dengan capital kuat dan dividend yield menarik. Kemudian kinerja laba relatif stabil, rasio P/E moderat.
Sektor perbankan juga biasanya lebih defensif saat IHSG volatil. Dividend yield bisa menarik buyer institusional. Namun ada risiko profit taking bank di tengah sentimen makro lemah. Saat rupiah melemah dapat menekan laba bersih.
TLKM – Telekomunikasi Indonesia Tbk
Saham ini ditutup pada angka Rp3.770 di penutupan perdagangan pada Jumat (23/1/2026). Saham ini diprediksi dapat mencapai level Rp3.900 — Rp4.100 atau naik 5-10 persen.
Pendapatan perusahaan ini yang kuat, cash flow yang stabil, dapat menjadi pertimbangan. Selain itu, likuiditas saham tinggi dan sering menjadi saham hedging ketika pasar bergejolak.
Meski sentimen netral tapi sering kena reaksi kuat terhadap rilis data konsumen/layanan. Lalu jika biaya capex meningkat, margin bisa tertekan.
ASII – Astra International Tbk
Saham ini ditutup pada angka Rp6.825 di penutupan perdagangan pada Jumat (23/1/2026). Saham ini diprediksi dapat mencapai level Rp7.300 — Rp7.600 atau naik 7 – 12 persen.
Konglomerat besar dengan eksposur otomotif, agribisnis, industrial. Biasanya menjadi saham yang bergerak responsif terhadap data penjualan ritel/otomotif.
Namun sektor otomotif mencatat pemulihan permintaan. Sensitif terhadap biaya bunga/tingkat suku bunga.
ADRO – Adaro Energy Tbk
Saham ini ditutup pada angka Rp2.400 di penutupan perdagangan pada Jumat (23/1/2026). Saham ini diprediksi dapat mencapai level Rp2.600 — Rp2.800 atau naik 8 – 15 persen.
Eksposur komoditas energi (batubara) yang kembali menarik investor jika harga komoditas naik dan arus kas kuat jika produksi/eksport meningkat bisa menjadi pertimbangan.
Hal itu didukung dengan kenaikan permintaan energi global bisa dorong saham komoditas. Namun ada risiko karena harga batubara masih fluktuatif secara global.
UNVR – Unilever Indonesia Tbk
Saham ini ditutup pada angka Rp2.250 di penutupan perdagangan pada Jumat (23/1/2026). Saham ini diprediksi dapat mencapai level Rp2.400 — Rp2.500 atau naik 5 – 10 persen.
Hal itu didukung dengan saham konsumer defensif yang sering dicari saat IHSG stagnan/menurun. Kemudian permintaan domestik produk F&B relatif stabil. Terlebih konsumen kelas menengah tetap kuat.
Namun ada risiko margin bisa tertekan oleh inflasi biaya operasional. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com






