Mitrapost.com – Perekonomian negara Republik Indonesia (RI) berhasil mencetak pertumbuhan sebesar 5,39% secara tahunan dalam kuartal IV di tahun 2025. Capaian tersebut tercatat lebih tinggi dari pertumbuhan di kuartal sebelumnya yang hanya sebesar 5,04%.
Bahkan, pertumbuhan perekonomian pada kuartal akhir tahun 2025 ini menjadi yang tertinggi sepanjang 13 kuartal atau dalam artian terhitung sejak kuartal III tahun 2022 yang pada saat itu mencapai di angka 5,73%.
Merespons pencapaian tersebut, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani menyebut bahwa capaian tersebut telah selaras dan masuk akal. Hanya saja, yang harusnya dijadikan sorotan bukan pertumbuhan, tapi kondisi lapangan.
“Angka hanya satu hal. Tapi kita juga harus melihat kondisi di lapangan, kondisi riil. Bagaimana kita beroperasi di lapangan? Tantangannya seperti apa,” jelas Shinta, dikutip dari CNBC Indonesia dalam acara Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski Jakarta, Rabu (11/02/2026).
Salah satu yang harus dijadikan sorotan menurut Shinta, di antaranya adalah kondisi sektor manufaktur nasional yang justru menunjukkan adanya sinyal perlambatan.
Hal tersebut terbukti dari data pertumbuhan yang sebagian besar subsektor manufaktur berada di bawah rata-rata pertumbuhan nasional.
“Industri tekstil hanya tumbuh 3,5%, alas kaki 3,3%, furnitur malah cuma 1,6%. Dari 16 subsektor manufaktur, sembilan subsektor tumbuh di bawah rata-rata nasional. Kondisi lapangan seperti itu,” katanya.
“Gambaran ini menegaskan tantangan di 2026 nggak cuma menjaga angka pertumbuhan. Tapi memastikan pertumbuhan sektor riil,” tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti sejumlah beban biaya yang harus ditanggung pelaku usaha di Indonesia, baik terukur maupun tidak namun telah berhasil memengaruhi kondisi mereka.
“Pada prinsipnya, Indonesia harus bisa berkompetisi dengan negara lain. Biaya-biaya harus menjadi perhatian. Seperti logistik, kita termasuk yang paling tinggi di antara tetangga. Juga biaya energi, biaya pinjaman suku bunga yang mencapai 8-12% sementara di negara tetangga 4-6%,” ucapnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






