Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk Senin (23/2/2026) menunjukkan sinyal waspada. Sentimen pasar saham dalam beberapa minggu terakhir menunjukkan ada tekanan dari pasar global dan domestik.
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap USD, dan langkah ini cenderung memperlemah sentimen ekuitas. Tekanan juga datang dari MSCI terkait transparansi pasar modal dan lembaga pemeringkat seperti Moody’s.
Secara teknikal dan fundamental, sebagian analis menilai IHSG sedang dalam fase konsolidasi/bound range, namun belum menunjukkan kenaikan signifikan (breakout) kuat karena resistensi yang masih tertahan.
Meski demikian, pembelian saham masih bisa menjadi pilihan di kondisi ini, namun perlu mempertimbangkan faktor-faktor lainnya, karena kondisi pasar belum sepenuhnya bullish kuat. Di antaranya, IHSG bergerak wajar, laporan emiten positif, dan menunjukkan sinyal buy.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
Potensi kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh likuiditas AMMN yang cukup likuid dengan spread moderat. Selain itu, fundamental jangka panjangnya kuat karena produksi tembaga/emas yang besar, tapi saat ini sedang fase transisi operasional berisiko tinggi.
Indikator MA menunjukkan momentum naik jika support bertahan, dan MACD berpotensi bullish cross. RSI tidak di area oversold, tetapi masih ada potensi penguatan sejak rebound, mengindikasikan buy on weakness di level Rp7.450–Rp7.625. Disiplin stop loss di level Rp7.300.
PT Timah Tbk (TINS)
Berdasarkan fundamentalnya, TINS memiliki spread dan likuiditas moderat, sehingga relatif cocok untuk swing entry, meski harus memperhatikan volatilitas sektor logam. Industri pulp/kertas Indonesia cenderung profit stabil dengan marjin EBIT bagus jika permintaan kuat.
MA50 mengindikasikan momentum rebound yang bisa memicu buy signal. Sementara itu, MACD dan RSI berpotensi bullish divergence atau reversal jika harga menguat dari support kuat. Beli di level support Rp3.700–3.850 dengan stop loss < Rp3.400.
PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY)
Likuiditas saham moderat dengan spread yang relatif terkontrol setelah gejolak market. Kinerja perusahaan di sektor consumer food memberi kekuatan pada permintaan domestik.
Indikator MA menunjukkan harga telah menyentuh area support jangka pendek dan menunjukkan potensi rebound. MACD & RSI juga menunjukkan tekanan jual menurun, dan momentum buy berpotensi kembali naik. Berdasarkan saran analis, beli di level support Rp5.125–5.275, dengan stop loss < Rp5.050.
PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
TKIM masuk ke dalam LQ45 dengan likuiditas cukup baik, dan spread tidak terlalu lebar untuk swing trade. Kinerja perusahaan consumer staples juga mendukung permintaan yang stabil.
Berdasarkan teknikalnya, harga cenderung mencoba rebound dari area support penting di MA20/MA50. Sinyal MACD dan RSI potensial bullish jika terjadi crossover pada histogram dan RSI mulai menguat dari level oversold.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Likuiditas cukup tinggi untuk saham mid-large cap, dan spread lebih sempit dibanding saham small-cap sehingga cocok untuk swing trading. Kinerja ANTM terhubung erat dengan harga komoditas emas dan nikel global yang relatif stabil.
Harga saham ANTM sering memantul di area support MA jangka menengah, sehingga cocok untuk swing trading. MACD dan RSI menunjukkan sinyal netral, indikasi menunjukkan mulai bullish jika breakout terjadi. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com



