Mitrapost.com – Di seluruh dunia, umat Islam menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah dengan sejumlah tradisi yang berbeda meski konteksnya sama, yaitu dalam rangka memperkuat keimanan.
Berdasarkan pada laman resmi Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, terdapat salah satu tradisi dari asing yang sarat akan inspirasi, tepatnya dari negara Mesir, yaitu bernama Ma’idaturrahman yang berarti “hidangan dari kasih sayang Allah.”
Dalam hal ini, tradisi tersebut berwujud seperti penyediaan meja-meja panjang di jalanan ataupun halaman masjid yang dipenuhi oleh sajian berbuka puasa. Siapa saja diketahui dapat menikmati hidangan tersebut tanpa status maupun latar belakang.
Tradisi Ma’idaturrahman menjadi salah satu bentuk nyata dari ajaran Islam terkait indahnya berbagi terhadap sesama dan memuliakan orang yang berpuasa. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dapat dijadikan sebagai fondasi atas lahirnya sejumlah gerakan sosial di bulan Ramadan, termasuk Ma’idaturrahman.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا (الترمذي)
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi)
Sementara di Indonesia, masyarakat mengenal adanya tradisi berbagi takjil (makanan pembuka sebelum hidangan utama) secara gratis, berbuka puasa bersama di masjid, hingga di sejumlah tempat lainnya.
Sebagai umat Muslim, kita dapat menjadikan tradisi Ma’idaturrahman dengan bentuk pengajaran moderasi beragama. Meja berbuka disiapkan bagi siapa saja tanpa ada sekat sosial dan tanpa diskriminasi.
Karena di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistik, tradisi Ma’idaturrahman mengingatkan masyarakat terkait kebahagiaan sejati yang lahir dari berbagi. (*)

Redaksi Mitrapost.com






