Mitrapost.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa Pemerintah Republik Indonesia (RI) akan tetap memenuhi kewajibannya terkait pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) alias Whoosh.
Hal tersebut tetap dilakukan, meski Pemerintah RI terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini tengah menghadapi risiko tekanan akibat adanya kenaikan harga minyak mentah dunia.
Meski pergerakan harga minyak mentah dunia saat ini berpotensi mengerek defisit, namun Purbaya memastikan bahwa APBN masih memiliki banyak ruang untuk memenuhi kewajibannya, termasuk dengan pembayaran utang proyek Whoosh ke Cina.
“Ya enggak apa-apa, kan enggak gede-gede amat,” jelas Purbaya di kawasan Tanah Abang, Jakarta, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (11/03/2026).
Kendati besaran nominal beban utang proyek pembangunan Whoosh yang akan ditanggung APBN tidak dijelaskan secara rinci, Purbaya menegaskan bahwa isu tersebut hingga saat ini belum sampai pada pembahasan lebih lanjut.
“Nanti kita lihat ya gimananya. Tapi belum (belum ada pembahasan),” katanya.
Perlu diketahui, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI), Bobby Rasyidin sebelumnya mengungkapkan bahwa Pemerintah RI telah memberikan solusi berupa jaminan yang dikeluarkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, terkait penyelesaian utang tersebut.
Dalam hal ini, Prabowo pernah menekankan bahwa Pemerintah RI harus melakukan pembayaran senilai Rp1,2 triliun per tahun guna memenuhi kewajiban penyelesaian proyek tersebut kepada negara Cina.
Sementara, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pihak Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara Indonesia) masih melakukan negosiasi tahap akhir dengan pihak Cina, terkait penyelesaian utang Whoosh.
“Kemarin laporan terakhir rapat di Danantara masih finalisasi. Sekarang proses negosiasi atau pembicaraan teknisnya itu langsung dipimpin oleh pak Rosan sebagai CEO Danantara,” ucap Prasetyo, Selasa (10/02/2026). (*)

Redaksi Mitrapost.com






