Mitrapost.com – LinkedIn dituding mengumpulkan data sensitif pengguna ke pihak ketiga salah satunya perusahaan Israel.
Fairlinked e.V yang merupakan sebuah kelompok yang mewakili pengguna komersial LinkedIn menyebut telah melakukan investigasi dan menemukan kode JavaScript khusus yang terisisip di LinkedIn.
Kode tersebut melakukan pemindaian ribuan ekstensi yang ada di web pengguna saat mengakses LinkedIn.
Dalam laporan dengan judul “BrowserGate”, menyebut bahwa LinkedIn mendeteksi lebih dari 6.000 ekstensi spesifik dengan pengidentifikasi unik.
Data dikumpulkan lalu dienkripsi dan dikirimkan ke server LinkedIn tanpa disebutkan dalam poin di kebijakan privasi publik perusahaan. Data tersebut menurut Fairlinked e.V, diduga dikirimkan kepada salah satu mitra yaitu HUMAN Security, perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat-Israel.
Sejumlah ekstensi yang dipindai bahkan disebut bisa mengindikasikan informasi pribadi yang sangat sensitif secara rahasia meliputi agama, pandangan politik, kondisi kesehatan, hingga status pengguna yang sedang mencari pekerjaan.
“LinkedIn memindai ekstensi yang mengidentifikasi umat Muslim, orientasi politik, hingga 509 alat pencarian kerja yang mengungkap siapa yang mencari pekerjaan secara rahasia di hadapan pemberi kerja mereka,” tulis laporan Fairlinked e.V dalam Cybernews dilansir dari Bisnis.com.
Sementara itu, pihak LinkedIn mengaku tudingan tersebut tak akurat. Perwakilan LinkedIn menyebut, ekstensi menyisipkan sumber daya status ke halaman web yang dapat mengganggu stabilitas situs.
Adanya deteksi terhadap ekstensi adalah untuk mengidentifikasi potensi pelanggaran ketentuan layanan.
“Kami menggunakan data ini untuk menentukan ekstensi mana yang melanggar ketentuan dan meningkatkan pertahanan teknis kami. Kami tidak menggunakan data ini untuk menyimpulkan informasi sensitif tentang anggota,” ujarnya.
Justru individu yang menudingkan hal tersebut, jelasnya, telah dibatasi akunnya lantaran melakukan pelanggaran yaitu scraping. Kemudian gugatan hukum oleh pemilik situs terkait klaim serupa juga telah ditolak oleh pengadilan di Jerman.
Sementara itu, laporan tersebut juga memahas keterlibatan HUMAN Security yang melakukan merger dengan firma asal Israel, PerimeterX.
PerimeterX sendiri didirikan oleh mantan perwira Unit 8200, divisi perang siber dalam Pasukan Pertahanan Israel (IDF). (*)

Redaksi Mitrapost.com






