Mitrapost.com – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin mengaku akan mengawal pemulihan santri korban pencabulan di Pati.
Pihaknya pun mengapresiasi setiap pihak yang membantu hingga korban berani bersuara.
“Pengusutan dan pengungkapan ini kami apresiasi kepada masyarakat, kepada lembaga-lembaga khususnya dari NU sendiri yang bersama-sama mengajak korban untuk berani berbicara,” ujarnya dilansir dari Kompas.
Mengingat para korban masih usia sekolah, pihaknya ingin memastikan para korban masih mau melanjutkan pendidikan.
“Kita harus memastikan mereka masih berani untuk sekolah. Ini yang paling penting karena masa depan mereka masih panjang,” ujarnya.
Sementara itu, santri di Ponpes Ndholo Kusumo sendiri mencapai 252 orang per 27 April 2026, terdiri dari 140 santri laki-laki dan 112 santri perempuan.
Santri yang merupakan anak yatim piatu berjumlah 48 anak. Mereka diantaranya berada di jenjang Raudhatul Athfal (RA) sebanyak 4 santri, Madrasah Ibtidaiyah (MI) 89 santri, SMP 91 santri, Madrasah Aliyah (MA) 50 santri, serta 10 santri di satuan pendidikan lainnya.
Gus Yasin pun memastikan Pemprov Jateng akan memberikan bantuan pendidikan bagi santri yang berasal dari keluarga tak mampu ataupun yatim piatu.
“Insya Allah masyarakat yang tidak mampu akan kita beri biaya sekolah dengan gratis semuanya,” tegasnya.
Ia menyoroti korban pencabulan yang berasal dari keluarga tak mampu. Sehingga pelaku memanfaatkan itu untuk mengancam dan menakut-nakuti korban.
“Mereka ditakut-takuti kalau tidak mau ikut anjuran dari oknum tersebut mereka akan diganti (posisinya sebagai santri). Sehingga ini yang harus kita bangun supaya mereka berani speak up,” katanya.
Setelah adanya kasus ini, pihaknya pun akan mengevaluasi penerapan dari Perda Ketahanan Keluarga yang mengatur perlindungan terhadap korban kekerasan di lingkungan keluarga maupun pendidikan. (*)

Redaksi Mitrapost.com






