Mitrapost.com – Terungkap aksi pencabulan di lingkungan pesantren kawasan Genteng Kali, Surabaya, Jawa Timur, oleh seorang ustaz inisial MZ (22). Saat ini, MZ telah ditetapkan sebagai tersangka.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan menjelaskan, aksi pelecehan seksual itu dilakukan oleh MZ kepada tujuh santrinya selama setahun terakhir, sejak tahun 2025. Para korban dicabuli tersangka ketika ada jadwal mengaji setiap Minggu.
“Jadi pada beberapa waktu mulai tahun 2025 sampai 2026 dari kurun waktu itu. Tujuh orang ini yang dilakukan perbuatan cabul oleh tersangka,” kata Luthfie, Jumat (8/5/2026), dikutip Detik.
Menurut keterangannya, para korban hanya menginap di pesantren selama beberapa hari setiap akhir pekan, dan tidur bersama di dalam satu kamar. Diketahui, sudah ada tujuh korban yang masih berusia 10 hingga 15 tahun.
“Istilahnya pondok pesantren ya, tapi memang kecil gitu. Dan anak-anak ini sebenarnya bukan anak-anak yang tinggal menetap, tetapi adalah anak-anak yang yang mondok secara hanya permingguan,” ucapnya.
Pelaku melakukan perbuatan cabulnya terhadap korban di malam hari dengan masuk ke kamar tempat santri menginap. Dalam pemeriksaan, ia mengaku melakukan aksi bejat tersebut karena ketagihan nonton film porno.
“Ya, menurutnya dia nafsu karena dia memang guru ngaji ini hobinya nonton film biru,” kata Luthfie.
Pelaku kini disangkakan dugaan Pelecehan Seksual Dan Atau Pencabulan Terhadap Anak Sebagaimana Dimaksud Dalam Pasal 6 Huruf C Jo. Pasal 15 Huruf G Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2002 Tentang TPKS Dan Atau Pasal 415 Huruf B Undang-Undang Tahun 2023 Tentang KUHP.
Santri di pesantren tersebut sebenarnya mengetahui aksi tersebut, namun tidak berani melapor karena takut. Saat ini, para korban telah mendapatkan pendampingan psikologis oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Surabaya.
“Nah, sebenarnya korban-korban yang lain itu ada yang tahu juga gitu. Tapi memang sama-sama semuanya tidak berani ngomong karena memang takut. Nah, setelah satu orang speak up dan lapor baru kemudian yang lainnya menyampaikan,” terang Luthfie.
“Dan terhadap tujuh korban ini kita bekerja sama dengan DP3A untuk dilakukan trauma healing. Kita berharap untuk tidak ada trauma terhadap anak-anak ini karena ini generasi muda cemerlang, mereka cerdas-cerdas,” lanjutnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






