Mitrapost.com – Kisah memilukan dialami pelajar SDN 021 Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.
Dimana untuk pergi ke sekolah, dua pelajar bernama Ade Fahri Maulana dan Assyfa harus menyebrangi Sungai Santan yang dikenal sebagai habitat buaya. Aksi keduanya sempat viral di media sosial.
Hal yang memilukan adalah keduanya harus menyebrangi sungai yang berbahaya itu dengan alat sederhana. Yaitu kotak kayu yang menggantung pada seutas tali seling. Agar kotak kayu itu bisa berjalan, mereka harus menarik sendiri katrolnya.
Saat air sungai pasang, maka risiko bahaya akan semakin meningkat. Karena air bisa menyentuh bagian bawah alat menyeberang tersebut.
“Iya, pernah diikuti buaya sebesar pintu saat air pasang. Palingan kami teriak saja, tidak menangis,” ujar Ade dalam video tersebut dilansir dari Kompas.
Karena bahaya yang mengintai, Aceng Zaenudin selaku orang tua anak tersebut pun merasa was-was. Apalagi saat curah hujan tinggi.
Aceng mengaku anaknya pernah menaiki alat penyeberangan tersebut, dan tiba-tiba macet di tengah sungai saat air sungai mulai meninggi.
“Keretanya macet, mereka teriak-teriak. Air sudah tinggi tinggal sejengkal dari lantai kereta. Butuh enam orang dewasa untuk menarik keretanya saat itu,” paparnya.
Mereka tak memiliki pilihan selain menyebrangi sungai tersebut karena jalur darat masih berupa jalan tanah milik perusahaan dan jauh memutar hingga 8 kilometer.
Saat hujan, jalur tersebut akan menjadi kubangan lumpur. Ada empat alat penyeberangan yang dibangun di sepanjang sungai. Namun tiga diantaranya dipakai untuk komoditas perkebunan.
“Di daerah saya tinggal ada 8 KK yang mengandalkan kereta gantung ini,” paparnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






