Pati, Mitrapost.com – Sejumlah wilayah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah sering mengalami bencana banjir dan kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati pun mengungkapkan penyebab kedua bencana itu bisa terjadi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya mengatakan bahwa vegetatif tanaman yang menempati wilayah Pegunungan Kendeng semakin berkurang. Hal itu menyebabkan terjadinya bencana banjir dan kekeringan khususnya di Pati Selatan.
“Baik itu banjir maupun kekeringan itu sebab utamanya vegetasi di Pegunungan Kendeng itu sudah semakin jelek,” ujar Martinus.
Menurut dia, fungsi vegetasi tanaman itu untuk menahan air di musim hujan sehingga meminimalisir terjadinya banjir. Sementara, lanjut dia, di musim kemarau tanaman mampu menyimpan air.
“Pohon-pohon besar bisa menahan air di musim hujan dan sebaliknya bisa menampung atau menyimpan air di musim kemarau,” terang dia.
“Fungsi hutan lindung ini kan mulai berkurang sehingga beberapa sumber mata air yang ada di wilayah-wilayah itu sudah mulai kering atau hilang sehingga terjadi kekeringan,” dia melanjutkan.
Oleh karena itu, di musim kemarau ini pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk bijak menggunakan air bersih. Adapun, masyarakat juga diajak untuk memelihara sumber air bersih.
“Seharusnya memang masyarakat ikut memelihara sumber-sumber mata air yang ada,” ucapnya.
Tahun 2026 ini, kata dia, ada tiga desa di kecamatan yang berbeda telah mengajukan dropping bantuan air bersih. Tiga desa itu diantaranya, Desa Tanjungsekar (Pucakwangi), Tambahagung (Tambakromo) dan Sinoman (Pati Kota).
Adapun bila mengacu tahun 2025, jumlah kekeringan berada di 98 sampai 100 desa. Desa-desa itu berada di sejumlah kecamatan.
“Kalau berdasarkan data tahun 2025 kemarin itu ada kurang lebih di angka 98 sampai 100 Desa sebarannya mulai dari wilayah Kecamatan Batangan, Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, Gabus, Kayen, dan Sukolilo,” pungkasnya. (*)

Wartawan Mitrapost.com






