Mitrapost.com – Kondisi pasar saham pada hari ini, Selasa (15/9/2026), dibuka dengan pelemahan akibat tekanan mayoritas saham. Sebanyak 297 saham tercatat melemah, sementara 203 saham menguat dan 463 saham lainnya stagnan.
Pasar masih dibayangi oleh sentimen peralihan posisi Menteri Keuangan RI, serta dinamika kebijakan fiskal. Sementara, sentimen global terkait antisipasi investor terhadap hasil rapat FOMC (The Fed) mengenai arah suku bunga yang turut menekan bursa Asia, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pasar masih menunjukan volatilitas, sehingga memungkinkan trader melakukan scalping saham untuk memperoleh profit di tengah pelemahan. Berikut 5 saham yang masih potensial untuk scalping hari ini!
PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Likuiditas saham tinggi dengan volatilitas cukup besar, sehingga menarik untuk technical rebound. Secara teknikal masih menunjukkan tren bearish dan sinyal Sell yang kuat. INCO menarik untuk rebound, bukan untuk mengejar harga saat masih turun.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
BYAN merupakan saham perusahaan batu bara dengan likuiditas pasar yang sangat besar, didukung fundamentalnya yang juga kuat. Secara teknikal, BYAN mengalami tekanan jual yang sangat kuat, namun jangan menganggap penurunan tajam berarti oversold yang siap rebound.
PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI)
Saham ASLI menarik untuk scalping karena karena volatilitasnya tinggi. Secara teknikal, strukturnya masih menunjukkan tren kenaikan, sementara tingkat harga sudah mendekati overbought. Perlu diketahui bagi scalper, jangan mengejar harga ketika spike.
PT Intermedia Capital Tbk (MDIA)
MDIA cocok untuk scalping agresif, bukan karena fundamentalnya sangat kuat, tetapi karena volatilitas dan volume transaksinya tinggi. Sinyal teknikal mayoritas masih Sell, menunjukkan tren turun cukup kuat.
PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)
EXCL menarik karena likuiditas besar, kapitalisasi besar, dan spread relatif efisien. Namun, secara fundamental masih perlu diperhatikan karena laporan keuangan sebelumnya menunjukkan tekanan laba yang besar akibat biaya atau penyesuaian setelah merger. Tingkat harga mendekati oversold, meski ada potensi technical rebound jika support bertahan. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com
