Pati, Mitrapost.com – Petambak garam di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah mengeluh lantaran kesulitan pasokan bahan baku berupa air laut. Hal tersebut dipengaruhi oleh musim kemarau panjang sehingga air laut surut.
Keluhan itu dirasakan oleh salah satu petambak garam dari Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Pramono. Dia mengaku, kemarau ini menjadikan dirinya kesulitan untuk mendapatkan pasokan air laut. Kondisi ini dinilai lebih parah dibandingkan tahun lalu.
Menurut dia, tidak adanya pasokan bahan baku dari air laut itu tentu berimbas terhadap produksi garam. Terlebih, hal itu mengakibatkan gagalnya panen.
“Tidak bisa produksi. Garam itu kan produksi air dari laut. Ini air laut gak bisa naik,” ujar Pramono.
Adanya kesulitan bahan baku ini, kata dia, menjadikan harga garam di Desa Ketitangwetan stabil.
“Tahun lalu harganya bagus, tapi hujannya banyak. Kalau Ini harganya stabil, tapi airnya nggak ada,” jelas dia.
Sementara itu, Kepala Desa Ketitangwetan, Ali Muntaha mengatakan dampak kemarau ini memukul sektor garam di wilayahnya. Menurutnya, selama dua pekan ini sebagian besar petambak garam di Desa Ketitangwetan tak dapat melakukan produksi garam.
“Pada musim kemarau tahun ini petani tambak sangat mengeluh sekali karena air pasang lautnya sangat kecil dan berdampak pada petani garam sehingga airnya tidak sampai lokasi tambak. Produksinya hampir dua minggu ini berhenti karena kondisi air yang sangat minim,” ujar Ali.
Adapun, untuk harga garam di tingkat petambak cukup bagus diantaranya Rp780 hingga Rp800 rupiah per kilogram.
“Tahun ini harga garam berkisar Rp780 sampai Rp800. Sementara harga bagus. Tapi tahun ini hasil garam kurang seperti tahun-tahun kemarin. Mungkin karena nggak ada curah hujan, terus hasil garamnya itu nggak bisa maksimal,” pungkasnya. (*)

Wartawan Mitrapost.com






