Mitrapost.com – Nasib nahas dialami remaja di Ciater, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel). Perempuan yang diketahui baru berusia 14 tahun itu menjadi korban penyekapan dan kekerasan seksual oleh pria kenalannya di sosial media.
Berdasarkan keterangan Ketua RT 04 RW 07 Kelurahan Ciater, Arfian Bule (38), kejadian bermula saat korban dan pelaku berusia 28 tahun itu berkenalan di sosmed.
Keduanya kemudian janjian bertemu. Namun pelaku justru membawa korban kabur tanpa sepengetahuan orang tuanya. Korban disekap selama hampir seminggu. Namun pelaku berhasil diamankan polisi saat hendak mengembalikan korban.
“Kurang lebih itu dibawa kabur sekitar lima atau enam hari baru dibalikin. Pas dibalikin itu ketahuan, ketangkap pas mau ngedrop (menurunkan korban),” ujarnya dilansir dari Kompas.
Korban sebelumnya dibawa pelaku ke rumahnya di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di sana, korban mengalami penyekapan, dan beberapa kali menjadi objek kekerasan seksual. Ia juga mendapatkan ancaman dari pelaku.
Terhitung, korban lima hingga enam kali dipaksa melayani nafsu bejat pelaku selama disekap.
“Yang bikin mirisnya lagi, ketika korban datang bulan, tetap dipaksa oleh pelaku. Korban juga diancam akan dibunuh jika teriak atau tidak mau melayani,” ujarnya.
Pelaku sempat panik karena warga bersiaga untuk menangkapnya. Ia akhirnya berinisiatif mengembalikan korban. Namun yang terjadi, pelaku justru membawa korban ke kawasan Ciater Permai.
Pihak keluarga dan warga telah mengintai pelaku dan akhirnya mengepung lokasi tersebut.
“Sebelum di-drop, ini ketahuan sama warga karena sudah dikepung di lokasi. Saat di-drop, langsung ketangkap sama warga,” paparnya.
Akibat kejadian itu, korban mengalami trauma psikologis dan memerlukan pendampingan khusus.
“Kalau keadaan korban sih untuk saat ini mental dan psikisnya trauma. Dia tidak mau ketemu orang siapa pun selain dari keluarga, terutama orangtuanya,” ujarnya.
Korban sempat teriak-teriak karena banyak orang yang menyaksikan saat pengepungan pelaku.
“Pas terakhir dia diantarkan dan dikepung warga, dia teriak-teriak karena banyak orang yang menyaksikan. Dia berteriak, ‘Jangan foto saya, jangan lihat saya!’ Mungkin karena malu atau takut,” ujarnya.
Kasus ini pun dalam penanganan kepolisian di wilayah Jakarta Timur. (*)

Redaksi Mitrapost.com






