Poktan Usaha VI Gunakan Limbah Olahan Tapioka Sebagai Pakan Ternak

Pati, Mitrapost.com Kelompok tani (Poktan) Ternak Usaha VI Desa Purworejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati memanfaatkan limbah olahan tepung tapioka menjadi comboran atau pakan ternak. Hal ini disampaikan oleh Dewi Retno Asih selaku Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Margoyoso kepada Mitrapost.com, Kamis (4/3/2021).

Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Margoyoso, Dewi Retno Asih, mengatakan petani di Desa Purworejo ini memanfaatkan potensi pertanian ubi kayu dengan baik, yakni dengan membuat tepung tapioka serta pakan ternak.

“Potensi yang ada di desa Purworejo mampu dimaksimalkan peternak dengan baik,” ujar Dewi.

Dengan banyaknya home industri pengolahan tepung tapioka di desa ini justru memunculkan ide untuk memanfaatkan limbahnya. Limbah berupa pongkol ubi dirajang kemudian dicampur dengan bekatul menjadi comboran untuk pakan sapi.

Baca juga: Manfaatkan Kotoran Sapi, Poktan Rukun Mulyo Buat Pupuk Organik

Selain pemanfaatan limbah ubi kayu, Dewi menyebutkan kelompok tani asuhannya juga memanfaatkan rumput odot yang banyak tumbuh di Desa Purworejo juga untuk pakan sapi.

“Rumput odot di sini subur. Mayoritas petani di sini membudidayakan rumput odot. Bahkan luasan tanaman rumput odot lebih besar dibandingkan tanaman padi,” ungkap Koordinator BPP Marogoyoso saat ditemui pada Kamis (4/3/2021).

Sementara itu Ketua Poktan Usaha VI, Pujo Sugiharto, mengaku bersyukur atas limpahan sumber daya alam yang ada di desanya, serta beruntung didampingi BPP Margoyoso.

“Kami sebagai warga Desa Purworejo bersyukur atas kerja keras Bu Dewi dan kawan-kawan dari BPP Margoyoso. Mereka senantiasa membimbing kami dalam mengembangkan usaha ternak ini hingga memperoleh juara kelompok tani ternak berprestasi tingkat kabupaten hingga provinsi,” ungkapnya.

Baca juga: Petani Pati Diimbau Mampu Merawat Alat Pertanian

Berdiri dari tahun 2015, Poktan Usaha VI membudidayakan jenis sapi BX Brahman Cross dan sapi Simmental. Masing-masing, sapi BX Brahman Cross sejumlah 13 ekor dan sapi Simmental sejumlah 15 ekor.

Meski demikian Pujo Sugiharto mengaku kesulitan dalam mengembangbiakkan sapi jenis BX Brahman Cross karena iklim di Indonesia kurang mendukung. Sebab sapi jenis ini merupakan jenis impor Australia yang perlu adaptasi karena iklim yang berbeda jauh.

Pihaknya menggunakan kandang sapi komunal untuk membudidayakan sapi ternak bersama anggota kelompok tani.

“Kami menampung sapi ternak punyanya anggota kami. Pemeliharaannya secara individu tetapi ditampung dalam satu kendang,” pungkasnya. (*)

Baca juga: Dispertan Pati Gelar Pelatihan Manajemen Budidaya Ternak Sapi Potong

 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur: Ulfa

 

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=smizXfOmELA[/embedyt]