oleh

Ziarah ke Makam RA Kartini, Perempuan Harus Cerdas dan Tak Terpapar Radikalisme

Rembang, Mitrapost.com – Memperingati Hari Kartini ke-142, istri Gubernur Jawa Tengah, Hj. Siti Atikoh Supriyanti berpesan agar seluruh perempuan, khususnya perempuan Rembang, bisa terus berproses untuk menjadi perempuan yang cerdas dan kreatif. Selain juga harus mampu menjadi perempuan yang berdaulat atas dirinya sendiri. Hal itu ia sampaikan dalam rangkaian momen Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Rembang, Rabu (21/4/2021).

Tiba di Rembang pada pukul 09.00 WIB, Atikoh ditemani Istri Wagub Jateng Nawal Nur Arafah Yasin, Istri Bupati Rembang Hj. Hasiroh Hafidz, dan Istri Wabup Rembang Siti Halimatussa’diyah kemudian mengikuti serangkaian acara. Antara lain, upacara, ziarah dan tabur bunga di makam R.A. Kartini, serta berbagai sembako kepada para pedagang di komplek makam R.A. Kartini.

BPKAD Pati

Dalam kesempatan itu, perempuan yang akrab disapa Atikoh Ganjar itu memaparkan, betapa banyak yang bisa diteladani dari sosok R.A. Kartini. Di mata Atikoh, R.A. Kartini adalah perempuan cerdas, religius, multikarya dan multitalenta. Ia mampu menguasai 6 bahasa sekaligus, yakni bahasa Indonesia, Jawa, Arab, Inggris, Prancis, dan Belanda. Tak hanya itu, R.A. Kartini juga dikenal serba bisa, pintar menjahit, melukis, membatik, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Baca juga: Museum RA Kartini Rembang, Dapatkan Dana Alokasi dari Dirjen Kebudayaan

“Itu menunjukkan betapa cerdasnya beliau (R.A. Kartini). Dengan ini mestinya kita bisa merefleksi, kita harus cerdas, terus belajar, untuk bisa membantu sesama (perempuan),” tuturnya.

Tak lupa, Atikoh Ganjar mewanti-wanti kepada para perempuan, agar sebagai ibu seorang perempuan harus cerdas dan kreatif dalam merawat dan mendidik anak. Karena hal tersebut merupakan langkah untuk melahirkan generasi yang tangguh dan berakhlak mulia. Sebab, bagaimanapun, menurut Atikoh, perempuan dalam hal ini adalah seorang ibu merupakan madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya.

“Tidak hanya cerdas dalam hal pikiran, tetapi juga cerdas membentengi anak dari pengaruh buruk globalisasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Atikoh menyebut jika arus digitalisasi saat ini memungkinkan masuknya banyak budaya luar yang tidak selaras dengan budaya Indonesia. Oleh karena itu, ia mengimbau agar para ibu melakukan kontrol terhadap anaknya. Karena menurut Atikoh, jika tidak ada kontrol maka akan mengakibatkan 4 krisis kehidupan bagi calon generasi bangsa. Yakni, krisis jati diri, krisis idelogi, krisis karakter, dan krisis kepercayaan.

Baca juga: Meski Ngehits, Wisata Candi Mulyo Belum Bisa Terima Bantuan dari Pemkab

Terakhir, ia mewanti-wanti agar para perempuan jangan sampai terpapar radikalisme. Maka ia meminta para ibu agar melakukan pendampingan terhadap anak-anaknya. Kaitannya dengan pembelajaran, pergaulan, dan bermedia sosial, serta adanya internalisasi nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai keagamaan.

“Jangan sampai perempuan terpapar radikalisme. Karena mendidik satu perempuan itu adalah mendidik satu generasi. Jangan sampai perempuan menjadi teroris. Intinya di tangan perempuan dan ibu yang cerdas, akan lahir generasi yang berkualitas,” tandasnya. (*)

Baca juga: 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur: Atik Zuliati

 

Komentar

Berita Terkait