Mitrapost.com– Jutaan masyarakat Afghanistan menghadapi kelaparan pada musim dingin, hal tersebut menyebabkan mereka terpaksa menjual bayi. Program Pangan Dunia PBB (WFP) mengungkapkan akan melakukan langkah kongkrit untuk membantu keperluan tersebut dengan segera.
Berdasarkan data dari WFP, 3,2 juta anak balita dapat mengalami kekurangan gizi parah,dan setengah populasi sekitar 22,8 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut
“Afghanistan saat ini merupakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, jika bukan yang terburuk,” kata David Beasley, direktur eksekutif WFP.
“Kami menghitung hari menuju bencana,” katanya.
Afghanistan saat ini telah jatuh di tangan Taliban setelah Amerika Serikan menarik pasukan militernya.
Keadaan makin diperparah setelah negara-negara barat menghentikan bantuan, dan bank dunia menghentikan penyaluran dana.
Sebuah negara dianggap bergantung pada bantuan asing ketika 10% atau lebih dari produk domestik brutonya berasal dari bantuan asing. Dalam kasus Afghanistan, sekitar 40% dari PDB adalah bantuan internasional, menurut Bank Dunia.
Setelah Taliban berkuasa, dana negara dibekukan, saat ini Afghanistan masih menyelidiki hal tersbeut.
dilansir dari media BBC, warga Afghanistan terpaksa menjual bayinya demi bertahan hidup untuk makan.
Perwakilan Organisasi Pangan Dunia PBB, Richard Trenchard, mengatakan situasinya sangat mengerikan.
“Angka terakhir mengindikasikan bahwa hampir 50%, artinya satu dari dua orang Afghanistan mengalami kerawanan pangan. Artinya mereka kelaparan setiap hari. Yang kami saksikan dalam sebulan terakhir adalah jumlah orang yang kelaparan naik 37, hampir 40%, dibandingkan April tahun ini.
Jalan ke depannya sangat sangat mengkhawatirkan mendekati akhir tahun ini, dan tahun depan Afghanistan akan berada dalam krisis atau keadaan darurat atau risiko krisis kemanusiaan luar biasa,” papar Richard.
Getty ImagesBadan bantuan memperingatkan penduduk memerlukan bantuan makanan dan medis secara cepat.
Bahkan guru di sana mengaku tidak menerima gaji selama 5 bulan.
“Sudah lebih dari lima bulan sejak saya menerima gaji saya,” kata seorang guru di Herat kepada BBC.
Warga Afghanistan menjual barang yang dipunya untuk bertahan hidup atau sekadar membeli makan.
“Hidup sangat sulit. Saya menjual apa pun di rumah. Kami menjual hewan kami, menebang pohon kami untuk menjual kayu.”
“Orang-orang miskin di sini,” kata seorang pria di Kandahar. “Kemarin saya melihat seorang perempuan yang mengunjungi tempat pembuangan sampah di sebuah hotel lokal, mengumpulkan sisa-sisa makanan.
WFP memperingatkan bahwa badai salju pada musim dingin meningkatkan risiko semakin terisolasinya warga Afghanistan yang bergantung pada bantuan.
“Penting bagi kami untuk bertindak secara efektif dan efisien untuk mempercepat dan meningkatkan pengiriman ke Afghanistan sebelum musim salju melanda sebagian besar negara itu, dengan jutaan orang – termasuk petani, perempuan, anak kecil dan orang tua – kelaparan ketika musim dingin,” kata QU Dongyu, direktur Organisasi Pangan Dunia (FAO) PBB.
Pada bulan September, WFP memperingatkan bahwa hanya lima persen keluarga Afghanistan yang mendapat cukup makan setiap hari. Bahan-bahan pokok seperti minyak goreng dan gandum mengalami kenaikan harga.
Pada bulan September, lebih dari US$1 miliar (Rp14,1 triliun) telah dijanjikan oleh komunitas internasional pada sebuah konferensi di Jenewa untuk membantu warga Afghanistan dan sepertiga dana itu akan disumbangkan melalui WFP.
Tetapi menurut WFP pada hari Senin (25/10), mengungkapkan bantuan dari PBB hanya diterima sepertiganya saja saat ini.
Organisasi tersebut mengatakan bahwa mereka membutuhkan US$220 juta dollar (Rp3,1 triliun) per bulan untuk tetap beroperasi, dan menyebut komitmen keuangan saat ini ibarat “tetesan air di samudera”. (*)
Artikel ini telah tayang di Detik News dengan judul “Mengenaskan! Warga Afghanistan Terpaksa Jual Bayi Demi Sesuap Nasi”+++
Redaksi Mitrapost.com


