oleh

Antropolog Tekankan Anak Muda Harus Bisa Mencintai Batik

Rembang, Mitrapost.com – Notty J. Mahdi, Antropolog dan Pemerhati Batik menilai rasa cinta terhadap warisan budaya utamanya pada batik harus berasal dari diri sendiri.

Dalam webinar yang di selenggarakan oleh Komunitas Terasmitra bersama dengan Lasem Heritage pada hari Sabtu (11/12/2021) pada pukul 10.00 WIB, Notty mengatakan anak muda harus mempunyai inisiatif sendiri untuk terus melestarikan warisan budaya terutamanya pada batik.

“Saya selalu tekan kan pada mahasiswa saya, yang datang ke kelas kalau tidak pakai batik tidak akan dapat nilai dari saya,”kata Notty saat mengisi webinar bersama Lasem Heritage dan para perajin batik tulis lasem.

Notty juga menekankan agar anak muda lebih bisa mencintai batik tulis ketimbang batik printing. Meskipun sama-sama disebut dengan istilah batik, akan tetapi batik tulis dikatakan sebagai warisan yang sesungguhnya.

Baca Juga :   Lestarikan Lingkungan, Kodim 0720/Rembang Tanam 15.000 Pohon

“Saya bilang kepada mereka nggak masalah kalau hari ini pakai printing atau cap, tapi kedepannya kalau bisa pakai yang tulis,” ungkap Notty.

Dirinya juga menekankan, agar anak muda mampu mengajak teman-teman mereka untuk melihat langsung pelatihan di rumah batik. Hal tersebut sebagai wujud untuk menghargai warisan budaya Indonesia yang sudah mendapatkan pengakuan dari dunia.

Dirinya yang juga merupakan seorang pemerhati batik mengungkapkan terdapat banyak perbedaan pada batik tulis dengan batik cap atau batik printing. Mulai dari kualitas estetika batik hingga kain yang digunakan.

Wiwin Rustiani, seorang perajin batik tulis Lasem mengungkapkan saat ini justru banyak pengusaha batik yang beralih profesi dari batik tulis ke batik cap atau batik printing. Hal tersebut dikarenakan biaya produksi yang jauh lebih murah.

Baca Juga :   Facebook akan Buka 10.000 Loker

Hal tersebut menjadi keprihatinan tersendiri bagi Notty selaku Antropolog dan Pemerhati Batik. Dirinya mengimbau agar para perajin, kembali meneruskan usaha batik tulis mereka meskipun di samping itu tetap ada usaha batik cap dan batik printing.

“Harapan syaa para pengrajin batik ini tetap ada usaha untuk batik tulis, karena warisan budaya kita ini ya batik tulis bukan batik cap atau printing,” tandas Notty J. Mahdi saat menanggapi pertanyaan peserta webinar. (*)