Mitrapost.com – Frasa Insya Allah atau Insha Allah sering membuat orang bingung manakah penulisan yang benar. Orang muslim sering kali mengucapkan frasa Insya Allah dengan makna harapan yang belum tentu dipenuhi.
Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V, penulisannya tertulis Insya Allah. Insya Allah yang menyatakan harapan atau janji yang belum tentu dipenuhi. Dalam KBBI Insya Allah juga memiliki makna ‘Jika Allah mengizinkan’.
Penulisan Insya Allah dalam bahasa Arab:
إِنْ شَاءَ اللَّه
Artinya: “Jika Allah menghendaki”
Namun kita juga perlu mengetahui dari kata di atas, huruf ش dalam bahasa Indonesia dibaca Sy. Sedangkan ش dalam bahasa Inggris dibaca sh. Dari hal ini timbullah perbedaan insya allah dan insha allah.
Jika maksud dan bunyinya إِنْ شَاءَ اللَّه maka benar. Akan tetapi di Indonesia penulisan Insya Allah lebih dominan karena merujuk kepada KBBI yang tertulis Insya Allah atau insyaallah.
Ucapan Insya Allah sendiri dianjurkan dalam Al Qur’an surat Al-Kahfi ayat 23 yang berbunyi:
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا . إِلّا أَنْ يَشَاءَ الله
Artinya: “Dan janganlah engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku akan melakukannya besok.’ Kecuali jika Allah menghendaki atau mengucapkan insyaallah.”
Dikutip dalam buku “Sepenggal Cerita Sejuta Makna” karya Abdul Wahid al-Faizin, lafazh إِنْ شَاءَ اللَّه (jika Allah menghendaki) adalah kalimat sederhana namun penuh makna. Salah satunya Insya Allah ini dapat menjadi bukti kuatnya aqidah seseorang yang mengaitkan segala yang akan terjadi pada masa depan dengan kehendak Allah SWT.
Selain itu, kata Insya Allah juga merupakan adab seorang hamba kepada Tuhannya. Bahkan Allah SWT mengajarkan adab tersebut pada hamba-Nya dalam surat Al-Fath ayat 27:
لَّقَدْ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءْيَا بِٱلْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ ٱلْمَسْجِدَ ٱلْحَرَامَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا۟ فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath: 27).
Dalam hal ini, frasa Insya Allah digambarkan sebagai bentuk pasrah dan tawakal terhadap sesuatu yang telah ditekadkan. Hal ini sesuai dengan surat Ali Imran ayat 159;
Sehingga pada hakikatnya, kata Insya Allah merupakan bentuk pasrah dan tawakal seorang
وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159).
Insya Allah juga digunakan untuk perilaku di masa yang akan datang, Sesuai dalam hadits, Itban bin Malik radhiallahu’anhu berkata:
ووَدِدْتُ يا رَسولَ اللَّهِ، أنَّكَ تَأْتِينِي فَتُصَلِّيَ في بَيْتِي، فأتَّخِذَهُ مُصَلًّى، قالَ: فَقالَ له رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: سَأَفْعَلُ إنْ شَاءَ اللَّهُ
Artinya: “Wahai Rasulullah, Aku berharap anda dapat mendatangi rumahku, lalu anda mengerjakan shalat di sana, kemudian akan aku jadikan tempat tersebut nantinya sebagai ruangan shalat di rumahku”. Dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku akan lakukan itu insyaallah” (HR. Bukhari no.425). (*)
Artikel ini telah tayang di Detik Edukasi dengan judul “Insya Allah atau In Shaa Allah, Manakah Tulisan yang Tepat?”
Redaksi Mitrapost.com

