Rembang, Mitrapost.com – Garam lokal Rembang harus bersaing dengan garam impor. Kondisi ini yang menjadi tantangan sendiri bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang dalam meningkatkan kualitas hasil produksi garam lokal supaya mampu bersaing.
Dengan adanya Washing Plant yang berfungsi memproses pemurnian garam, Pemkab Rembang terbantu dengan adanya kerja sektor produksi garam.
Meski demikian, permintaan industri semakin banyak dan belum bisa mengatasi permasalahan.
Menurut Moch. Sofyan Cholid selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang, permasalahan di sektor pertanian garam antara lain, kurangnya sumber daya manusia (SDM) untuk mengoperasikan Washing Plant dan minimnya biaya guna mendanai pembangkit listrik yang digunakan. Apalagi mesin tersebut baru ada sekitar tiga minggu ini.
“Operasionalnya itu sementara ini dapat memproduksi hampir 20 ton per hari dan masih belum optimal. Dalam peresmian akhir tahun lalu diharapkan beroperasi selama 24 jam sekaligus untuk mengecek kekuatan mesin. Hanya jumlah bahan baku masih terbatas,” ungkapnya kepada Mitrapost.com, Rabu (2/2/2022).
Menurutnya, adanya Washing Plant harga garam mencapai Rp 750 – Rp 1.000 per kilogram. Dengan adanya Washing Plant, kualitas menjadi lebih baik serta permintaan pasar meningkat.
Meskipun permintaan pasar meningkat pemerintah masih tetap kesulitan mengolah data. “Yang jadi permasalahan di sini. Kita belum bisa mendata berapa yang harus diproduksi, harus dilempar atau dipasarkan dimana dan yang masuk di Rembang ada berapa,” kata Cholid.
Ia berharap garam bisa jadi bahan konsumsi dan industri. Meski stok sempat menurun pada tahun 2020 tapi stok 2021 masih tergolong aman. (*)





