Mitrapost.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak penghentian pembangunan museum Holocaust di Sulawedi Utara.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim. Ia menilai bahwa pembangunan museum tersebut bisa melukai masyarakat Palestina.
“Pembangunan museum itu harus dihentikan. Saya mohon Pemda bersama dengan masyarakat di sana, MUI dan ormas dan kekuatan civil society harus bangun sensitivitas juga. Karena ini melukai masyarakat Palestina,” ujar Sudarnoto pada Rabu (2/2).
Ia mengungkapkan bahwa pembangunan museum ini diinisiasi oleh komunitas Yahudi yang ada di Sulawesi Utara.
Ia menegaskan bahwa zionisme tak bisa lagi ditolerir. Hal tersebut karena adanya konflik yang berkepanjangan antara Palestina dengan Israel yang sudah terjadi selama puluhan tahun.
“Zionisme ini sama jahatnya dengan Holocaust Nazi. Ini tak bisa ditolerir. Atas kejahatan zionisme itu juga Israel seharusnya diseret ke pengadilan internasional,” ujarnya.
Sudarnoto juga mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara pembela Israel, oleh karena itu ia tidak menghendaki adanya pembangunan museum Holocaust di Sulut.
“Karena Indonesia sebagai negara dan bangsa pembela Palestina sejak lampau, kok jadi tempat peringatan Holocaust, dan ini museum terbesar di Asia Tenggara,” kata Sudarnoto.
Tak hanya itu, Sudarnoto menilai pembangunan museum ini kemungkinan akan jadi momentum bagi para pemain politik di tingkat global maupun di Israel. Menurutnya, mereka akan semakin meyakinkan Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
“Saya tahu teman-teman Yahudi di Minahasa anti zionisme. Tapi itu bukan untuk kepentingan zionis juga,” katanya.
Kritik juga datang dari Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi. Ia menilai bahwa pembangunan Museum Holocaust ini telah melanggar UUD 1945.
“Pembangunan Museum Holocaust merupakan pelanggaran nyata terhadap UUD dan konstitusi RI yang sampai saat ini masih menolak normalisasi hubungan dengan Israel,” kata Muhyiddin dalam keterangan resminya dikutip Rabu (2/2).
Ia mengatakan bahwa seharusnya pemerintah harus segera mengambil tindakan tegas terhadap pembangunan museum tersebut, yang dinilai menjadi bentuk provokatif, tendensius, hingga menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
“Pembangunan museum itu tak ada urgensinya sama sekali di bumi Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, Muhyiddin menyebut Indonesia dan masyarakat dunia juga harus mewaspadai manuver dan proxy Israel dengan memanfaatkan kondisi nasional yg tak stabil. Terlebih lagi saat ini ekonomi sedang mengalami keterpurukan.
Kondisi tersebut, kata Muhyidin, dapay membuka peluang untuk menekan Indonesia supaya melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.
“Alasan mereka adalah sangat klasik yaitu Indonesia bisa berperan lebih besar dan aktif membantu penyelesaian konflik Arab-Isreal. Itu semua adalah Batman trap saja,” kata dia.
Museum ini diresmikan bertepatan dengan peringatan hari Holocaust internasional. Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ina Lapel sempat menghadiri persemian Museum tersebut. (*)
Redaksi Mitrapost.com







