Fans K-Pop Umbar Kemarahan di Medsos, Begini Kata Akademisi

Mitrapost.comKemarahan fans idol K-Pop di media sosial membuat banyak warga maya heran dengan vulgarnya mengumbar kemarahan terhadap seseorang yang menghina idola mereka.

Berikut gambaran kemarahan fans K-Pop, sekelompok fans K-Pop ini melakukan pertengkaran dengan seseorang yang diduga masih remaja melalui Twitter.

Sekelompok fans ini pun tidak terima dengan penghinaan yang dilakukan terhadap idola mereka, sebagian mereka menyampaikan kemarahannya dengan kata kasar, nada tinggi, bahkan mengancam akan membawanya ke jalur hukum.

Bahkan mereka juga mengatakan dirinya melekat dengan strata sosial yang tinggi, seperti relasi tokoh politik dan aparat penegak hukum.

Dilansir dari Detik News, Firman Kurniawan Pakar Komunikasi Digital yang mengajar di Universitas Indonesia (UI) menyampaikan pengamatannya berkenaan dengan fenomena kelompok fans yang mengumbar kemarahan di ruang publik digital ini. Firman mengawali analisisnya dengan bicara temuan penelitian terkini soal dampak media sosial.

“Berbagai penelitian terkini, terutama yang bertema interaksi yang intensif dengan media sosial, menghasilkan temuan berupa munculnya berbagai ilusi dari para pengguna media sosial. Ilusi ini kemudian terepresentasi dalam relasi antara seorang pengguna media sosial, dengan pengguna media sosial yang lain,” kata Firman, Jumat (20/5/2022).

“Pada kasus Safa yang dituduh menghina salah satu personal boy band oleh fans yang lain, rasa keterhinaan bersumber dari ilusi ini, rasa berkuasa. Dengan ilusi yang tak bisa dipisahkan kenyataan, sekelompok fans berhak menafsir, bagaimana cara seharusnya memperlakukan idola yang mereka cintai,” ulas pria yang juga mengajar di Atma Jaya Jakarta ini.

Firman mengungkapkan bahwa para fans merasa berhak melakukan kelakuan tidak terpuji tersebut ketika idola mereka dikatakan tidak sesuai standa, mereka pun merasa terhina.

Akibatnya, ilusi kekuasaan menjangkiti, mereka merasa terhina dan berhak menyerang pihak yang melakukan penghinaan yang diikuti paksaan untuk meminta maaf dan tunduk terhadap pihak yang berkuasa.

“Dalam kacamata eksternal, penonton yang tak terjangkiti ilusi, akan muncul pertanyaan: Apa urusannya satu pihak merasa lebih terhina dibanding pihak lain, satu pihak memaksa meminta maaf pihak lain, padahal yang dihina itu sendiri tidak peduli. Bahkan merasa terhina. Terlepas dari berlebihan atau tidak, tindakan pihak yang berilusi, fenomena ini adalah fakta yang perlu dijelaskan secara teoritis,” ulas Firman.

“Dan dalam kasus Safa, hubungan yang terjadi antara penggemar boy band K-Pop sebagai khalayak media, dengan personal boy band, sebagai yang ditampilkan media. Apakah hubungan itu nyata? Tidak. Hanya ilusi. Sedangkan parasocial interaction, adalah suatu bentuk ilusi lanjutan yang muncul, di mana ketika para penggemar merasa telah berhubungan dengan idolanya, dan kemudian merasakan adanya ilusi interaksi,” ujarnya.

Kemudian mereka juga memiliki ilusi lanjutan yang menjadikan para penggermar idol K-Pop mekain melekat sebagai para idola dan mengambil bagian.

Ia memberikan contoh, ketika para penggemar berkomentar tentang tatanan rambut, kemudian para idola k-pop melakukan sedemikian rupa seperti yang dikatakan oleh para penggemar mereka ini membuat para penggemar merasa diperhatikan, meskipun tidak ada interaksi nyata diantara mereka.

“Inilah ilusi interaksi parasocial itu. Namun demikian, ketika hanya ilusi yang terjadi, bukan berarti dapat diabaikan. Apalagi dianggap tak masuk akal. Para penggemar itu demikian menghayatinya hubungan dan interaskinya. Adanya respons yang sesuai, dimaknai sebagai adanya hubungan dan interaksi yang nyata dengan personal yang dikagumi. Hubungan dan interaksi ini senilai dengan hubungan tatap muka senyatanya. Hal yang penting, ilusi ini dialami oleh sekelompok orang. Bukan 1-2 orang saja. Maka ketika idolanya dihina, diperlakukan tak sesuai harapan maupun standar, muncul rasa kolektif, idolanya dihina. Dan mereka dengan galak dan solid membela,” kata Firman. (*)

Artikel ini telah tayang di Detik News dengan judul, “Sudut Pandang Akademisi soal Heboh Fans K-Pop Umbar Kemarahan di Medsos”

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati