Pati, Mitrapost.com – Nelayan di Desa Keboromo, Kecamatan Tayu mengeluhkan sejumlah persoalan, diantaranya yakni harga rajungan yang merosot dan persoalan sampah. Kondisi tersebut dirasa sangat merugikan perekonomian para nelayan rajungan.
“Harga rajungan saat ini turun. Padahal kalau waktu mahal bisa sampai seratus ribu. Terlebih, produksi rajungan di Desa Keboromo ini diambil oleh pengepul daerah lain,” kata Zarohim, salah satu nelayan asal Desa Keboromo.
Selain itu, ia juga mengeluhkan terkait pendangkalan sungai di kawasan tangkap rajungan. Menurutnya, pendangkalan tersebut diakibatkan banyaknya sampah.
Ia berharap Desa Keboromo bisa dijadikan sebagai kampung ranjungan. Pasalnya, warga di desa tersebut mayoris berprofesi sebagai nelayan rajungan.
“Desa Keboromo ada 100 nelayan rajungan. Dari mulai umur 25 sampai 50 itu mayoritas nelayan rajungan. Kami ingin membuat desa menjadi kampung ranjungan supaya bisa dikenal di luar daerah,” katanya.
Sementara itu, PJ Bupati Pati Henggar Budi Anggoro menanggapi keluhan dari nelayan Desa Keboromo. Ia menjelaskan bahwa pihaknya akan berupaya membantu menyelesaikan persoalan yang dialami para nelayan rajungan tersebut.
“Bagaimana pun kita harus mencoba, paling tidak harga bisa naik. Tentunya kita akan mencoba barang kali ada cara, supaya permintaan dari daerah rajungan ini bisa kita fasilitasi,” terangnya.
Sedangkan terkait pendangkalan, lanjut dia, tidak bisa berkomentar banyak. Ia hanya mengajak semua pihak untuk ikut bersinergi bersama sehingga fasilitas untuk nelayan rajungan bisa membaik. Dengan begitu, perekonomian masyarakat bisa bangkit.
Sedangkan terkait usulan Desa Keboromo dijadikan kampung rajungan, Henggar merespon baik dan akan mendukung.
“Terkait kampung ranjungan saya setuju. Jadi kita akan coba, nanti bagaimana caranya, pemerintah kabupaten prinsipnya mendukung,” pungkasnya. (*)

Wartawan Mitrapost.com






