Mitrapost.com – Harga beras berisiko mengalami kenaikan. Pengamat Pertanian Asosiasi Penggiat Ekonomi Politik Indonesia, Khudori menyebut bahwa penghentian ekspor beras non-basmati oleh India berkemungkinan diikuti oleh negara produsen beras yang lain.
Ia menyebut bahwa hal ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Penerapan kebijakan tersebut oleh India adalah bentuk respon atas iklim ekstrem.
“Aksi ini sebagai respons atas iklim ekstrem yang diperkirakan akan menekan produksi [beras],” katanya dilansir dari Bisnis.com.
Selain India, selama ini Bulog juga mengandalkan impor dari Thailand, Vietnam dan Pakistan. Jika negara alternatif pengekspor beras tersebut pada akhirnya mengikuti jejak India untuk membatasi beras keluar, maka menurutnya harga beras beresiko besar akan naik.
Menurutnya, pengadaan beras impor sebanyak 2 juta ton harus dipastikan datang secara gradual. Karena untuk memastikan ketersediaan cadangan beras pemerintah sehingga harga beras pun terkendali.
“Akan tetapi, sejak 2022 terlihat tidak mudah mengimpor beras,” tuturnya.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi sebelumnya sudah mengatakan bahwa Indonesia memiliki stok beras yang cukup meski ada aksi pelarangan ekspor beras India.
“Kita optimis beras aman,” jelasnya. (*)
Redaksi Mitrapost.com






