Pati, Mitrapost.com – Perkiraan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) puncak musim kemarau berada di bulan Juli-Agustus. Tetapi, tidak menutup kemungkinan akan berlangsung sampai bulan September-Oktober.
“Bulan Juli-Agustus puncak musim kemarau, tetapi bisa jadi mungkin nanti sampai September-Oktober bahkan barangkali nanti November masih ada beberapa tempat yang mengalami musim kemarau,” jelas Martinus Budi Prasetya selaku Kepala Pelaksana Harian Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati.
Prediksi di tahun 2024 puncak musim kemarau akan lebih panjang, dibandingkan tahun sebelumnya.
Menanggapi perkiraan musim kemarau lebih panjang, Budi mengimbau agar para petani di Kabupaten Pati untuk mengganti komoditas tanamannya. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi resiko terjadinya gagal panen.
“Para petani dihimbau agar mengganti komoditas tanamannya, dari tanaman padi menjadi tanaman yang lain palawija misalnya. Yang tanaman-tanaman yang lebih sedikit membutuhkan air daripada padi,” jelasnya.
Seperti diketahui, Budi mengatakan seperti di daerah Eks Kawedanan Jaken yang saat ini telah merasakan kekurangan air di lahan sawah.
“Sekarang ini mungkin mereka berharap masih cukup air, ternyata ketika padi mulai tumbuh sudah mulai kekeringan di beberapa tempat seperti di wilayah eks kawedanan Jaken, wilayah Jakenan, Jaken barangkali sudah merasakan air kurang,” paparnya.
Budi mengatakan tahun 2024 ini musim kemaraunya mundur, dalam kalender biasanya musim kemarau bertepat di bulan April.
“Memang diakui kita masuk kemaraunya itu mundur, karena kalau kalender musim biasanya April-Oktober itu kemarau, tapi ini kemarin April masih ada hujan kemudian baru Mei ini. Karena masuk musim kemaraunya itu mundur, maka, dimungkinkan nanti musim hujannya juga mundur,” tandasnya. (iwp)

Wartawan Mitrapost.com






