Miliki Rasa dan Aroma Khas, Madu Bunga Randu dari Gunungwungkal Jadi Primadona

Pati, Mitrapost.com Usaha madu bunga randu kini menjadi primadona peternak Pati. Karena, rasa dan aroma yang khas yang dimiliki. Madu bunga randu yang berasal dari peternakan lebah, dapat ditemui di Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati.

Salah satu pelaku usaha madu di Desa Gunungwungkal, bernama Tatik mengatakan bahwa madu bunga randu dapat dipanen di bulan Juni hingga Agustus. Panen madu tersebut, juga menyesuaikan kondisi cuaca. Biasanya panen madu tersebut pada saat memasuki musim kemarau tiba.

Selain itu, Tatik mengatakan apabila cuaca mendukung, maka pihaknya akan memanen madu dengan hasil yang berlipat ganda.

“Jadi madu randu ini adalah primadona bagi peternak maupun pembeli karena memiliki rasa dan aroma yang khas sekali. Dan juga ciri lainnya memiliki gas yang lebih banyak. Kalau cuaca mendukung dan vegetasi mencukupi petani madu dapat memanen berton-ton madu bunga randu,” ungkap Tatik melalui pesan singkat kepada wartawan di Pati.

“Kalau cuaca mendukung InsyaAllah bisa panen dua ton untuk yang saya dan suami kelola sendiri ini. Di panen kali ini kurang lebih 500 box tapi yang saya kelola hanya 100 box,” tambahnya.

Kemudian, Tatik melanjutkan bahwa ia memanen madu dengan cara mengambil sarang lebah dari box. Selanjutnya, melakukan pemisahan antara lebah dan sarang. Kemudian, sarang dimasukkan ke ekstrak.

Ia mengatakan bahwa madu bunga randu ini, memiliki kualitas bagus. Karena, makanan lebah tersebut murni dari nektar.

“Kita ambil sarangnya dari box, kita pisahkan lebahnya dari sarang menggunakan serap (alat tradisional dari bulu ekor kuda), lalu kita masukkan ke ekstrak. Madu di kami memiliki kualitas super full nektar. Setelahnya madu kami jual,” terangnya.

Setelah dilakukan pemanenan, madu mentah tersebut akan dijual dengan harga kisaran Rp60 ribuan. Harga tersebut merupakan harga madu tanpa proses pengolahan.

“Karena kami hanya petani madu, jadi tidak ada proses lagi. Kita menjual madu raw honey atau madu mentah tanpa proses pengolahan. Kita jual raw honey nektar randu di harga Rp60 ribuan. Kami jual ke pihak yang sudah bekerjasama seperti pabrik dan pengecer, biasanya mereka belu grosir untuk dikemas sendiri,” jelasnya.

Sejauh ini, kendala yang dirasakan Tatik selaku pelaku usaha madu, yakni adanya musim penghujan yang di luar perkiraan. Pada akhirnya, lebah akan sulit terkondisikan. Sehingga, berdampak terhadap vegetatif lebah tersebut.

“Kendala paling sulit saat hujan, kemarin waktu hujan hasil panen kurang maksimal. Kemudian karena lebah menjadi galak saat vegetasi alam sudah berkurang, Biasanya lebah saling berebutan pakan atau rampokan,” pungkasnya. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati