Mitrapost.com – Peneliti dari Badan Riset dan Indonesia Nasional (BRIN) kini tengah mengkaji penggunaan teknologi nuklir untuk mengatasi permasalahan polusi udara di Indonesia.
Profesor Riset BRIN, Muhayatun Santoso mengatakan bahwa teknologi nuklir dapat digunakan dengan melakukan karakterisasi terhadap partikel yang ada di udara yang membahayakan kesehatan.
“Dengan teknologi canggih ini, kita berharap permasalahan polusi udara menjadi lebih terang,” ujarnya dilansir dari Tempo.
Ia menyebut polusi udara di Indonesia berasal dari berbagai sumber seperti alam yaitu dari gunung berapi dan kebakaran. Kemudian dari aktivitas manusia seperti transportasi dan kegiatan industri.
“Yang bersumber dari alam, Indonesia termasuk dalam ring of fire, banyak gunung berapi, kebakaran. Kemudian yang bersumber dari aktivitas manusia, seperti transportasi, industri, dan sebagainya,” terangnya.
Saat ini, diketahui sudah ada 17 lokasi di sejumlah kota besar yang dipasangi alat pemantau polusi udara. Pihak BRIN pun akan melakukan analisa dengan teknik nuklir berdasarkan data yang dikirimkan dari alat tersebut.
“Karena partikelnya sangat kecil, maka membutuhkan teknologi yang benar-benar canggih. Partikulat-partikulat udara tersebut, dengan menggunakan energi nuklir sekali tembak, bisa menggunakan gamma, X-ray, atau proton, akan bisa terdeteksi semuanya. Dan uji ini non destructive, partikelnya masih utuh,” jelasnya.
“Teknologi ini dapat memberikan informasi komplet untuk pihak manajemen dalam membuat kebijakan sesuai data untuk daerah masing-masing. Hal ini karena karakteristik masing-masing daerah berbeda, sumber-sumbernya juga berbeda. Sehingga, misalnya sebuah kebijakan di Jakarta tidak bisa langsung diterapkan untuk kota yang lain,” lanjutnya.
Langkah lain yang ditempuh untuk menerapkan teknologi ini adalah dengan bekerja sama dengan negara lain.
“Tidak semua laboratorium berteknologi maju ada di Indonesia. Di Asia Pasifik, kita bekerja sama dengan 22 negara. Kita juga terlibat dalam proyek dengan International Atomic Energy Agency (IAEA), di mana, kita diberi kesempatan untuk menggunakan fasilitas canggih yang ada di Italia, Selandia Baru, dan Australia,” ujarnya. (*)
Redaksi Mitrapost.com






