Pendidikan Tanggung Jawab Siapa? Ini Kata Praktisi Pendidikan

Mitrapost.com – Kebijakan baru Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengirim siswa bermasalah ke barak militer masih menjadi polemik. Banyak pihak menyebutkan bahwa kebijakan tersebut perlu dikaji lebih dulu dari segala aspek, mulai dari segi pendidikan hingga psikologi.

Sementara itu, Dedi mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk pembinaan siswa-siswa yang dianggap bermasalah, khususnya jika orang tua dan guru tidak sanggup lagi menghadapi kenakalan remaja. Maka, peran pemerintah dihadirkan untuk menangani masalah pendidikan ini.

“Saya mau buat program, anak-anak yang nakal di rumahnya enggak mau sekolah, pengin jajan terus, balapan motor terus, sama orang tuanya melawan diserahin ke pemerintah Kota Depok untuk dibina di kompleks militer dan kompleks polisi,” terang Dedi Mulyadi.

Dr. Drs H Tri Leksono Ph,. S. Kom,. M. Pd,. Kons yang merupakan akademisi, praktisi, organisatoris, profesional pendidikan menilai bahwa kebijakan ini perlu kajian mendalam dari segala sisi.

“Apa yang dilakukan kang Dedi hanya memutus permasalahan sementara (instan),  karena penyelesainya tidak semacam itu, perlu identifikasi, analisa, evaluasi dan follow up bersama,” katanya.

Menurutnya, penanganan siswa bermasalah harus dipahami secara holistik, yakni dengan menelaah kondisi sosial, politik dan ekonomi, mengingat pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama.

Dalam keterangannya, Tri Leksono menjelaskan peran berbagai pihak terkait pendidikan anak-anak, berikut penjelasan lebih lengkapnya!

Peran pemerintah

Tri Leksono menyebutkan bahwa peran pemerintah dalam pendidikan anak adalah dengan melalui aturan dan pengelolaan sistem pendidikan nasional. Pemerintah harus menentukan kebijakan dan standar pendidikan untuk menjamin mutu, menyediakan layanan pendidikan berkualitas, dan mudah diakses bagi semua warga negara.

“Apakah pemerintah sudah clear memenuhi sesuai dengan undang-undang pendidikan yang berlaku sekarang. Nampak nya masih jauh dari harapan dari undang-undang pendidikan nasional kalau dibandingkan dengan negara tetangga kita,” jelasnya.

Peran keluarga

Menurutnya, keluarga memiliki peran paling penting dalam mendidik dan mengembangkan karakter anak. Keluarga, khususnya orang tua, juga bisa hadir untuk mendukung proses belajar di sekolah dan di rumah, serta mendukung pengembangan minat dan bakat anak.

“Ayah Bunda adalah sosok pertama yang berinteraksi langsung dengan anak sejak lahir. Orang tua bertanggung jawab untuk memberikan perhatian, kasih sayang, dan nilai-nilai moral yang mendasar kepada anak-anak mereka,” kata Tri Leksono.

Orang tua juga harus menjaga komunikasi yang baik dengan sekolah dan guru agar dapat menyelaraskan perkembangan pendidikan anak-anak mereka. Pasalnya, tak sedikit anak yang bermasalah dilatarbelakangi oleh hubungan antar anggota keluarga yang buruk.

“Bisa dipastikan kalau Anak bermasalah maka hulu nya dipastikan bermasalah yaitu keluarga dan lingkungan anak yang terdekat yang bermasalah,” terangnya lagi.

“Setiap anak lahir dengan potensi kebaikan, dan lingkunganlah yang dapat membentuknya menjadi sesuatu yang berbeda, lingkungan yang paling dekat dengan anak adalah keluarga,” lanjut konselor anak itu.

Peran masyarakat

Selain orang tua dan sekolah, masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam pendidikan anak. Masyarakat terdiri dari tetangga, komunitas, dan lembaga masyarakat. Ketiganya harus menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

“Masyarakat dapat memberikan dukungan moral dan sosial kepada anak-anak dengan cara memberikan contoh yang baik dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan positif,” jelas Tri Leksono. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati