Mitrapost.com – Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota memutuskan mundur lebih awal dari jabatannya setelah menjabat selama enam bulan.
Keputusan itu dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban serta penjagaan nama baiknya atas kegagalan penjagaan ketahanan pangan selama masa penjabatan.
Melansir dari Tempo, bersamaan dengan pengumuman pengunduran dirinya sebagai Dirut, Joao juga menyinggung adanya permasalahan invasi dari para penggilingan padi skala besar terhadap para petani kecil yang hanya dijadikan sebagai buruh semata.
Menurutnya, praktik ini dianggap buruk bagi ketahanan pangan nasional. Para penggiling padi skala besar berani menjual beras dengan mayoritas bersifat tidak layak dengan salah satu praktiknya adalah melakukan pengoplosan.
Gabah dari para petani kecil yang mendapat subsidi pemerintah dibeli oleh para penggiling padi skala besar demi mendapatkan keuntungan dari hasil perolehan harga yang lebih murah.
Joao membeberkan fakta mengenai sejumlah pebisnis dan pengusaha sudah menguasai sektor pangan nasional, sedangkan pemerintah hanya menguasai 10 persen dari pangan nasional yang ada saat ini.
Dalam pernyataannya, peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) juga ikut disinggung dengan perannya yang dianggap tidak optimal mendukung kinerja perseroannya.
Padahal, Danantara disebut mengemban tugas untuk mengurusi bisnis dan investasi di perusahaan plat merah yang salah satunya adalah PT Agrinas bersama Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (*)

Redaksi Mitrapost.com






