Kisah Nyak Sandang, Penyumbang Pembelian Pesawat Pertama RI-001

Mitrapost.com – Teungku Nyak Sandang bin Lamudin, seorang kakek berusia 98 tahun asal Aceh mengaku pernah menyumbangkan sepetak sawah seharga Rp100 pada tahun 1950 untuk membeli pesawat yang menjadi cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia.

Melansir dari Detik, saat ditemui di rumahnya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Aceh pada 2018 silam, Nyak Sandang menceritakan awal mula pembelian transportasi udara itu.

Menurutnya, sumbangan tersebut bermula ketika diadakannya proses penggalangan dana atas ajakan Gubernur Aceh dan Gubernur Militer yang kala itu dijabat oleh Abu Daud Beureueh, dalam ceramahnya di halaman masjid di Calang, Aceh Jaya.

Dalam pidatonya, Daud secara menggebu-gebu membakar semangat warga Tanah Rencong, bahwa karena Indonesia temasuk dalam negara yang kaya raya, hubungan dengan negara luar sangat diperlukan.

Dan untuk mewujudkan kesempatan itu, dibutuhkan pula transportasi udara berupa pesawat agar mudah berhubungan dengan negara luar. Nyak Sandang turut menghadiri ceramah tersebut.

Ia menyebut di awal pidato, Daud mengungkapkan pertemuannya dengan Presiden Soekarno di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh.

Setelah pidato selesai dikumandangkan, Daud bermusyawarah dengan seluruh ulama Aceh yang telah dikumpulkan, dalam rangka membahas pengumpulan dana pembelian pesawat.

Salah satu ulama terkenal di daerah Nyak Sandang, ialah Abu Sabang (Muhammad Idarus) yang kala itu turut serta dalam musyawarah bersama Daud.

Dari situlah seluruh warga bergegas menyumbang pembelian pesawat dengan menggunakan harta pribadi masing-masing, termasuk Nyak Sandang dan ayahnya.

Keduanyapun menjual sepetak tanah seharga Rp100 yang setelahnya langsung diserahkan pada satu orang yang ditunjuk.

Tidak cuma-cuma, dalam proses penggalangan dana itu Daud Beureueh sempat berjanji dalam kurun waktu 40 tahun, penyumbang akan mendapatkan imbalan atas kontribusinya kepada negara, saat itu Nyak Sandang berumur 23 tahun.

Selain berupa harta, Nyak Sandang juga menyebut dirinya ikut berkontribusi dalam perjuangannya melawan penjajah dengan menjalankan tugasnya sebagai kepala pasukan pengintai.

Ketika kapal Belanda muncul, ia bertugas mengabari pasukan lain yang bertahan di atas Puncak Gureutee, Aceh Jaya.

Oleh karena jasa-jasanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam masa pemerintahannya kala itu mengabulkan tiga permintaan Nyak Sandang, di antaranya operasi mata katarak, pembangunan masjid di kampungnya serta menaikkan haji atau umrah.

Tak hanya itu, dalam pemerintahan saat ini, oleh Presiden Prabowo Subianto juga memberikan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama kepada Nyak Sandang yang merupakan salah satu penyumbang pembelian pesawat Republik Indonesia (RI) pertama, Seulawah RI-001. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati