Mitrapost.com – Bank Indonesia saat ini tengah menggencarkan tindak intervensi demi stabilisasi nilai tukar (kurs) rupiah, di tengah kondisi nominal yang mencapai hingga hingga atas Rp16.700 per 1 dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir dari CNBC Indonesia, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memastikan bahwa pergerakan kurs kedepannya akan berubah menjadi lebih stabil. Keyakinan ini didorong oleh stabilnya perekonomian domestik.
Hal tersebut juga diyakini oleh Perry, meski dari segi pasar keuangan global terlihat masih penuh dengan ketidakpastian.
“Rupiah akan stabil didukung imbal hasil, inflasi, dan prospek ekonomi,” jelas Perry dalam konferensi pers hasil rapat dewan gubernur Bank Indonesia, dikutip Sabtu (22/11/2025).
Beberapa intervensi yang dilakukan oleh Perry, di antaranya menyasar pada pasar luar negeri maupun dalam atau domestik, baik yang berbentuk spot ataupun bahkan dari non delivery forward (NDF).
Selain itu, Perry juga menekankan bahwa kebijakan mewajibkan para pelaku ekspor atau eksportir untuk memarkirkan dolar dari Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), juga selama ini sedang diperkuat oleh pasokan dolar dari dalam negeri.
“Ke depan, BI (Bank Indonesia) menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi terukur di spot NDF onshore (darat), offshore (laut lepas atau pantai) dan beli SBN (Surat Berharga Negara),” ucapnya.
Dalam data Refinitiv mencatat jika rupiah Garuda dibuka terapresiasi sebesar 0,09% untuk posisi Rp16.720 per dolar AS. Sementara pada perdagangan sebelumnya, tepatnya Selasa (18/11/2025), rupiah harus ditutup melemah mencapai 0,09% ke level Rp16.735 per dolar AS. (*)

Redaksi Mitrapost.com






