Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal tahun 2026 menguat dan sempat berada di rekor tertinggi yaitu di kisaran ±8.933 pada perdagangan terakhir. Hal itu dapat menunjukkan optimisme investor sejak bursa dibuka.
Kondisi tersebut mendukung peluang rotasi sektor di awal pekan, namun pergerakan tetap harus hati-hati menghadapi volatilitas global, data ekonomi baru, dan ulasan makro yang akan keluar dalam pekan ini.
Berikut ini 5 saham yang berpotensi mengalami pergerakan harga signifikan pada Kamis, 8 Januari 2026 didasarkan pada kondisi tersebut dan fundamentalnya.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Bank BCA memiliki likuiditas yang kuat dan basis nasabah yang luas. Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) bank ini rendah sehingga menopang petumbuhan jangka panjang. Saat IHSG bullish, bank besar biasanya cenderung menarik arus masuk modal asing.
BBCA diperkirakan dapat mencapai harga Rp8.600 — Rp8.990 atau naik 5 – 10 % dibandingkan dengan harga penutupan per (6/1/2026) yang berada di angka Rp8.175.
Namun ada risiko valuasi relatif tinggi berdampak pada upside jangka pendek moderat.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
Saham BBRI berpotensi bergerak naik 5 – 12 % di angka Rp3.900 — Rp4.100 dari harga penutupan Rp3.680 per (6/1/2026).
Hal itu didukung dengan fundamental perusahaan. Dimana Bank BRI memiliki segmen UMKM dan digital kredit kuat sehingga pertumbuhan stabil. Selain itu, saham bank besar tetap jadi perhatian investor saat IHSG naik.
Meski begitu, BBRI sensitif terhadap perubahan suku bunga jangka pendek.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
Saham BMRI berpotensi naik di angka Rp5.100 — Rp5.400 atau naik 5 – 10 % dari harga penutupan Rp4.880 pada (6/1/2026).
Hal itu didukung dengan kondisi neraca kesehatan relatif solid dengan diversifikasi kredit luas. Saham sektor keuangan juga sering menjadi leading indicator IHSG.
Namun tetap perlu diperhatikan bahwa marjin bunga neto (NIM) dapat menekan performa jika BI rate tetap tinggi.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
Saham TLKM ditutup di angka Rp3.520 pada (6/1/2026). Telkom memiliki cashflow kuat, pangsa pasar besar di layanan data. Kemudian ada kebiasaan membagikan dividen reguler.
Kondisi permintaan data yang meningkat dapat berdampak pada stabilitas pendapatan. Saham ini berpotensi naik di kisaran Rp3.700 — Rp3.800 atau naik 4 – 9 %.
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
Saham ini berpotensi naik 7 – 15 % di angka Rp2.000 — Rp2.100 dari harga penutupan (6/1/2026) Rp1.865.
Saham ADRO memiliki valuasi yang masih relatif undervalued dibanding target analis yang menunjukkan upside signifikan dalam 12 bulan. Didukung dengan permintaan komoditas energi tetap kuat, dukung minat investor.
Namun ada risiko dimana harga batubara dan komoditas global sangat berpengaruh. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com






