Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Jumat, 9 Januari 2026, bergerak menguat pada zona hijau sebesar 11,28 poin atau 0,13 persen ke level 8.936,75, mencerminkan keseimbangan antara minat beli selektif dan tekanan profit taking jangka pendek.
Penguatan ini ditopang oleh sejumlah sektor, seperti konsumsi non-primer, properti, dan bahan baku. Sementara, sektor keuangan dan infrastruktur cenderung bergerak defensif.
Oleh sebab itu, rekomendasi awal pekan pada Senin (12/01/2026) menunjukkan pergerakan IHSG yang cenderung stabil. Dalam hal ini, pelaku pasar lebih selektif pada saham berfundamental kuat dan likuid.
UNVR – PT Unilever Indonesia, Tbk
Melansir dari IDX Channel, lode saham UNVR yang berkarakter defensif dengan volatilitas harian yang relatif rendah ini menutup perdagangannya pada angka Rp2.620. Kemudian, pergerakan natural diprediksi membawa rentang kenaikan yang wajar, mulai dari Rp2.630 — Rp2.650.
Angka tersebut diperoleh, dari hasil analisa yang menunjukkan kestabilan permintaan konsumsi primer, di mana saham tersebut sering menjadi tujuan rotasi dana ketika pelaku pasar menghindari risiko yang berlebih.
BBCA – PT Bank Central Asia, Tbk
Penutupan saham BBCA pada angka Rp8.125 menunjukkan kondisinya yang masih berada dalam fase penyesuaian teknikal setelah sebelumnya mengalami kenaikan signifikan. Meski begitu, kuatnya likuiditas dan ditopang fundamental memunculkan potensi angka Rp8.165 — Rp8.250.
Range pergerakan harga tersebut diperkirakan terbatas dan sehat, sejalan dengan karakter sektor perbankan besar yang sering dijadikan sebagai indikator kestabilan IHSG, bukan pada saham yang bergerak ekstrem harian.
ASII – PT Astra International, Tbk
Seiring stabilnya ekspektasi pertumbuhan domestik, saham ASII yang berpotensi mendapatkan respon positif moderat dari pasar ini menutup harga sebelumnya pada angka Rp6.875. Sesuai dengan karakternya sebagai indeks utama, target disusun konservatif di angka Rp6.900 — Rp7.000.
Sebagai saham konglomerasi dengan diversifikasi bisnis, ASII yang berada pada sektor konsumer siklikal ini disebut cenderung mengikuti arah indeks dengan volatilitasnya yang lebih terukur.
BRMS – PT Bumi Resources Minerals, Tbk
Di tengah sentimen komoditas yang bertahan, BRMS menutup perdagangannya dengan nominal Rp1.230. Sensitivitas harganya yang lebih tinggi dibandingkan saham indeks besar ini juga menjadi penentu target pada posisi kisaran Rp1.240 — Rp1.260.
Meski begitu, sektor tambang yang masih relatif atraktif membuat penentuan target terbatas, yang digunakan untuk menjaga pendekatan non–spekulatif dan menghindar dari ekspektasi pergerakan yang berlebihan.
PWON – PT Pakuwon Jati, Tbk
Dalam sepekan ini, saham properti menunjukkan perbaikan sentimennya hingga PWON berhasil menutup perdagangannya pada angka Rp352. Sebagai emiten properti besar yang cenderung memilih akumulasi bertahap, range target PWON berada pada kisaran Rp354 — Rp359.
Range kenaikan yang tipis namun optimis ini mencerminkan adanya potenso lanjutan atas analisa teknikal yang wajar, tanpa mencampurkan asumsi katalis agresif jangka yang sangat pendek. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com


