Mitrapost.com – Sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan serius akibat perubahan iklim dan gangguan ekosistem yang berasal dari spesies asing invasif (invasive alien species/IAS).
Kehadiran spesies asing invasif ini telah menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan ekosistem dan spesies asli, utamanya pada ketahanan pangan, ekonomi lokal, kesehatan masyarakat, hingga keseimbangan ekologis.
Melansir dari National Geographic Indonesia, peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Atmaja, mengatakan, perubahan iklim mampu memperluas dinamika invasi spesies asing invasif melalui penciptaan kondisi lingkungan yang mendukung penyebarannya.
“Dalam konteks inilah riset menjadi instrumen penting untuk memahami pola invasi sekaligus merumuskan strategi pengelolaan yang lebih adaptif dan berbasis bukti ilmiah,” jelas Tri Atmaja, dikutip Senin (09/03/2026).
Diketahui, spesies asing invasif ini memicu gangguan ekologis yang signifikan di wilayah ekuator Indonesia, seperti sabana, hutan hujan tropis, hingga kawasan pesisir.
“Dua kasus yang menjadi perhatian utama dalam upaya konservasi ekosistem adalah invasi langkap (Arenga obtusifolia) di Taman Nasional Ujung Kulon dan akasia berduri (Vachellia nilotica) di Taman Nasional Baluran,” ucapnya.
Menurut Tri, dominasi spesies Langkap atau tumbuhan dari famili palem-paleman (Arecaceae) yang berkembang pesat di Taman Nasional Ujung Kulon ini mampu menekan pertumbuhan tumbuhan bawah yang menjadi sumber pakan satwa lain, terutama badak jawa (Rhinoceros sondaicus).
Sementara, akasia berduri atau tanaman asal Afrika yang digunakan untuk mencegah perambatan kebakaran dari savana ke hutan tropis di Taman Nasional Baluran ini disebut penyebarannya tidak terkendali.
“Invasi akasia berduri mengancam keberadaan padang rumput alami yang menjadi sumber pakan herbivor besar seperti banteng (Bos javanicus), rusa, dan kerbau, serta mengurangi luas habitat penting bagi satwa liar,” katanya. (*)

Redaksi Mitrapost.com

