Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah pada hari ini Senin (6/4/2026) terakhir update pukul 09:39 WIB, di level 6.994,75 atau turun -32.03 poin (-0.46%).
Kondisi tersebut dipengaruhi adanya sentimen global dan kenaikan harga minyak. Indeks sudah turun cukup dalam dalam sebulan terakhir ini. Hal itu memberikan peluang rebound jangka pendek.
Kondisi market yang sedang volatif dan banyak terjadi tarik ulur menjadi kondisi yang cocok untuk melakukan scalping. Berikut lima saham listing Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dinilai potensial.
BBRI – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
BBRI memiliki likuiditas yang besar di market. Saham ini sedang mengalami tekanan sehingga berpeluang muncul technical rebound intraday.
BBRI potensial untuk scalping karena volume besar memudahkan untuk masuk atau keluar, pola drop membuat rebound cepat, dan saham ini juga sensitif terhadap flow asing.
BMRI – PT Bank Mandiri Tbk
Saham BMRI merupakan salah satu penggerak IHSG dengan transaksi yang tinggi. Pergerakan saham ini seringkali mengikuti arah market dengan jelas.
BMRI layak masuk watchlist karena memiliki trend intraday relatif clean, likuid dan stabil untuk fast trade, serta responsif terhadap sentimen makro.
ADMR – PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk
Adanya kenaikan harga energi dan mineral memberikan dampak positif bagi saham ini. ADMR biasanya memiliki range intraday yang lebar.
Scalper dapat memantau saham ini karena volatilitasnya tinggi, sering muncul spike momentum, dan sensitif terhadap sentimen global.
BUVA – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk
Saham ini seringkali bergerak ketika ada sentimen market. Saat kondisi pasar sideways dan rebound, saham ini menjadi salah satu saham yang direkomendasikan.
BUVA menjadi saham yang potensial untuk scalping karena pergerakannya yang agresif, range intraday lebar, dan cocok untuk momentum cepat.
CUAN – PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk
Saham ini tengah menjadi perhatian pasar. Saham CUAN cenderung bergerak cepat mengikuti sentimen sektor.
CUAN potensial untuk scalping karena volatilitas tinggi, banyak spekulasi jangka pendek, dan sering muncul lonjakan harga tiba-tiba. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com






