Mitrapost.com – Imbas lonjakan harga yang menyebabkan kelangkaan plastik, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyebutkan sejumlah pelaku industri pangan yang mulai berpikir untuk mengembalikan kemasan botol kaca.
Dalam hal ini, pihaknya menjelaskan bahwa produksi industri hulu plastik di dalam negeri mengalami penurunan hingga sekitar sepertiga dari kapasitas. Bahkan, sejumlah negara pemasok tercatat tidak mampu melakukan produksi akibat dari keterbatasan bahan baku.
Oleh sebab itu, situasi tersebut membuat harga plastik di tingkat produsen maupun industri menengah besar mengalami kenaikan signifikan hingga sekitar 30-60 persen. Pada tingkat pedagang, kenaikan plastik bahkan mencapai lebih tinggi hingga 100 persen akibat keterbatasan stok.
“Tadi saya infokan beberapa produsen yang dulunya kemasannya botol kaca, sekarang minuman ya, ada sekarang yang kemudian beralih ke plastik sekarang sebagian mau balik lagi ke botol kaca untuk mengantisipasi,” jelas Adhi, dikutip dari CNN Indonesia.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Republik Indonesia (Menperin RI), Agus Gumiwang Kartasasmita, justru menegaskan bahwa pasokan plastik nasional dilaporkan masih aman meski harga bahan bakunya melambung tinggi akibat gejolak geopolitik Timur Tengah.
Pada penjelasannya, tekanan yang terjadi pada industri plastik saat ini tidak terlepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang menimbulkan dampak terhadap pasokan nafta yang selama ini digunakan sebagai bahan baku utama industri petrokimia.
“Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu koreksi suplai pada sektor-sektor industri yang bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama,” kata Agus dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (10/04/2026).
Atas hal tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama para pelaku industri tengah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan produksi, agar pasokan tetap terjaga.
Di antara langkah yang dapat dilakukan, meliputi pencarian sumber alternatif pasokan nafta di luar Timur Tengah, mengoptimalkan penggunaan gas minyak bumi cari atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai bahan baku penyangga, serta mendorong pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi. (*)

Redaksi Mitrapost.com






