Mitrapost.com – Sejumlah kejanggalan ditemukan dalam kematian anggota TNI AL Kelasi Dua, Ghofirul Kasyfi (22) di kapal rumah sakit KRI Radjiman Wedyodiningrat.
Hal itu sebagaimana yang disampaikan ayah korban, Mahbub Madani. Ia mengungkapkan bahwa awalnya korban ditempatkan di KRI Radjiman Wedyodiningrat untuk menjalani orientasi selama tiga bulan.
Selama masa itu, korban seringkali berkirim pesan ke ibunya. Ia mengaku mendapat pukulan dari seniornya hingga ia ingin pindah kapal setelah satu bulan di sana.
“Anak saya mengaku dipukul seniornya. Bukan hanya satu tapi sampai puluhan orang,” ujarnya dilansir dari Kompas.
“Bahkan dia bilang tidak kuat dan ingin pindah ke kapal di Surabaya. Saat itu kapalnya dia di Jakarta,” lanjutnya.
Korban juga sering mengeluh hanya mendapatkan istirahat 1 jam dan malam harinya mendapatkan penganiayaan. Hingga ia meminta pertolongan.
“Ovy itu bilang kalau siang dia kerja dan malamnya di bantai. Dia selalu tidur jam 2 dan jam 3 sudah dibangunkan lagi. Anak saya juga kerap mengirim pesan minta tolong pada kami,” paparnya.
Kejanggalan lainnya yang ditemukan adalah, keluarga korban sempat didatangi dua orang yang mengaku sebagai senior korban. Mereka menyebut korban kabur dari kapal sehingga mereka mencari keberadaan korban.
“Dua orang itu mengaku komandan di kapalnya mencari anak saya. Katanya anak saya kabur dari kapal,” paparnya.
Sehari setelah kedatangan senior tersebut, pihak keluarga mendapatkan informasi bahwa korban meninggal dunia karena bunuh diri.
“Anehnya, sehari setelahnya anak saya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar di kapal tersebut. Padahal, kata mereka sebelumnya sudah di geledah di kamar dan anak saya tidak ada,” paparnya.
Pihak keluarga tak percaya jika korban melakukan bunuh diri.
“Bagi kami itu hal yang mustahil dilakukan anak saya. Dia itu orangnya tegar dan dia juga ikut bela diri jadi mentalnya cukup kuat. Pilihan bunuh diri bagi dia rasanya tidak mungkin,” ujarnya.
Keyakinan itu semakin kuat saat jasad korban tiba di Kabupaten Bangkalan pada 27 April sekitar pukul 01.30 dini hari. Dimana wajah korban tampak lebam.
“Di situ saya melihat wajah anak saya lebam-lebam. Itu sudah sangat aneh bagi saya,” paparnya.
Luka lebam juga ditemukan di tubuh korban dan selangkangan korban mengeluarkan darah. Bahkan ditemukan juga luka di leher bawah.
“Lebih aneh lagi, luka di leher anak saya itu di sini (leher bawah). Seharusnya, kalau memang bunuh diri, tali ke atas karena tubuhnya merosot ke bawah,” paparnya.
“Dan salah satu seniornya juga bilang lebam di tubuh anak saya itu bukan lebam tapi tanda lahir. Saya kenal anak saya dan tahu tubuh anak saya, dia tidak punya tanda lahir,” lanjutnya.
Melihat kejanggalan itu, pihak keluarga pun bertekad ingin anaknya diautopsi.
“Di situ saya bertekad ingin anak saya diotopsi,” jelasnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com
