Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada sesi pertama perdagangan hari ini, Senin, 11 Mei 2026, dengan mengalami penurunan sebesar 1,14% atau 79,12 poin ke level 6.890,27, dipicu aksi defensif investor menjelang rilis data ekonomi global.
Untuk perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, IHSG berpotensi bergerak fluktuatif dengan peluang technical rebound terbatas, terutama apabila tekanan eksternal mulai mereda dan terjadi re-akumulasi pada saham-saham big caps.
BMRI – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Dalam kondisi pasar yang sedang mengalami tekanan, saham perbankan besar biasanya menjadi sasaran awal re-akumulasi karena dianggap lebih stabil dan likuid. Saham ini sempat menutup perdagangannya di angka Rp4.630.
Selain itu, BMRI juga memiliki karakter pergerakan yang relatif kuat di tengah IHSG yang memasuki fase rebound teknikal, terutama ketika investor institusi mulai kembali masuk secara bertahap. Hal ini diperkirakan meningkat di tengah fase Rp4.722 — Rp4.815.
PTRO – PT Petrosea Tbk
Di tengah rotasi pasar, saham PTRO diketahui tetap relevan karena memiliki sensitivitas tinggi terhadap aktivitas sektor energi dan pertambangan, yang dibuktikan dengan penutupan perdagangannya di fase Rp5.050.
Ketika tekanan pasar mulai mereda, saham dengan momentum sektoral kuat seperti PTRO cenderung bergerak lebih cepat dibanding saham defensif biasa, sehingga diperkirakan bergerak dalam rentang Rp5.201 — Rp5.353.
BBCA – PT Bank Central Asia Tbk
Perlu diketahui, BBCA masih menjadi salah satu indikator utama arah dana asing. Dalam fase pasar yang volatil, saham ini sering dipilih sebagai instrumen stabilisasi portofolio karena fundamental yang kuat dan volatilitas yang relatif lebih terjaga dibanding saham pertumbuhan lainnya.
Meski sebelumnya perdagangan sempat ditutup di angka Rp6.175, namun pergerakan saham ini diproyeksikan akan berada di level Rp6.298 — Rp6.422.
ANTM – PT Aneka Tambang Tbk
Saham berbasis logam seperti ANTM disebut tetap memiliki daya tarik dalam kondisi global yang belum sepenuhnya stabil. Meski sebelumnya perdagangan sempat ditutup di angka Rp3.630, namun pergerakan saham ini diproyeksikan akan berada di level Rp3.739 — Rp3.811.
Karena ANTM mendapat dukungan dari ekspektasi jangka menengah terhadap hilirisasi dan permintaan logam industri, hal ini berpotensi mengalami rebound lebih cepat ketika tekanan pasar mulai berkurang.
TLKM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
Dalam fase market uncertainty, TLKM menjadi salah satu saham defensif yang relevan. Meski sebelumnya perdagangan sempat ditutup di angka Rp2.960, namun pergerakan saham ini diproyeksikan akan berada di level Rp3.019 — Rp3.078.
Stabilitas bisnis dan karakter pergerakan yang cenderung lebih tenang membuat saham ini berpotensi menarik minat investor yang menghindari volatilitas tinggi namun tetap ingin mempertahankan eksposur di pasar saham. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com






