Mitrapost.com – Puluhan korban ditemukan tewas tenggelam dalam insiden putusnya jembatan gantung di atas Sungai Uwe, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, beberapa waktu lalu.
Diketahui, jembatan Wouma putus pada Rabu (6/5/2026) malam, dan upaya pencarian para korban sudah dilakukan sejak 7 Mei 2026 sore hingga sekarang. Evakuasi dilakukan oleh tim gabungan terdiri dari Polres Jayawijaya, Kodim 1702/Jayawijaya, dan Pos Basarnas Wamena.
Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara menyebutkan, belum diketahui secara pasti jumlah korban yang jatuh dari jembatan. Namun, hingga saat ini, tim gabungan sudah menemukan 24 orang tewas tenggelam diduga karena jembatan putus.
“Jujur sampai dengan detik ini kami belum mendapatkan data akurat berapa korban yang jatuh akibat putusnya jembatan gantung Wouma. Informasi jatuh korban dari jembatan gantung Wouma ada yang bilang 7, 20, 33 dan 38 semuanya masih simpang siur,” ujarnya, dikutip MetroTV News.
“Hasil pencarian kami bersama tim gabungan sejak putusnya jembatan gantung Wouma hari pertama hingga saat ini (Minggu) kurang lebih telah menemukan 24 korban hingga hari ini (Minggu),” lanjut dia.
Pihaknya masih berfokus pada pencarian dan evakuasi para korban untuk meredakan gejolak dan ketegangan antarsuku di Wamena. Upaya pencarian dilakukan di tiga titik lokasi, mulai dari lokasi jembatan gantung yang putus hingga ke Jembatan Wouma.
Selain itu, tim gabungan berusaha melakukan konfirmasi identitas para korban.Pasalnya, sempat ditemukan laporan terkait salah satu korban yang sudah meninggal dunia. Namun, setelah dilakukan pengecekan, ternyata masih hidup.
“Namun begitu kami terus melakukan upaya pencarian supaya dapat menurunkan tensi (emosi) dari keluarga korban,” katanya.
Sebelumnya, Jembatan Wouma putus diduga karena kelebihan muatan massa dari kelompok suku Hubla (Kurima) dan suku Lanny (Tiom) yang saling serang. Aksi penyerangan tersebut berlanjut pada pada 15 Mei 2026.
“Putusnya jembatan gantung tersebut karena kelebihan beban dan mengakibatkan korban jiwa serta memicu kemarahan dari kelompok masyarakat Lanny Jaya yang berujung pada aksi penyerangan lanjutan dengan kelompok massa yang lebih besar dan meluas,” katanya, dikutip Antara. (*)

Redaksi Mitrapost.com






