Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir perdagangan sesi pertama, Senin, 18 Mei 2026 sebesar 3,76% ke level 6.470,34, dipicu oleh kekhawatiran geopolitik global serta pencoretan sejumlah saham emiten besar Indonesia dari daftar MSCI.
Untuk perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, IHSG berpotensi masih volatil, namun peluang technical rebound selektif mulai terbuka, utamanya pada saham yang mengalami tekanan berlebihan tetapi tetap memiliki fundamental dan likuiditas kuat.
BMRI – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Dalam kondisi market panic, saham perbankan besar biasanya menjadi sasaran awal untuk dilakukan re-akumulasi karena memiliki likuiditas tinggi dan dianggap representasi stabilitas pasar domestik.
Selain itu, saham ini juga berpotensi mengalami technical rebound setelah tekanan jual besar di sektor keuangan mulai mereda. Meski perdagangan sempat ditutup di angka Rp4.200, saham ini diperkirakan meningkat pada fase Rp4.326 — Rp4.410.
TLKM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
Di tengah tekanan global dan capital outflow, saham dengan pendapatan stabil dan volatilitas relatif lebih rendah berpotensi menjadi tempat rotasi dana sementara. Saham TLKM disebut memiliki karakter defensif yang cenderung dicari ketika volatilitas pasar meningkat.
Meski sebelumnya perdagangan sempat ditutup di angka Rp2.960, namun pergerakan saham ini diproyeksikan akan berada di level Rp3.019 — Rp3.108.
ANTM – PT Aneka Tambang Tbk
Tekanan terhadap saham komoditas pada sesi hari ini cukup besar, namun ANTM tetap memiliki relevansi jangka menengah karena eksposur terhadap hilirisasi logam dan permintaan industri.
Dalam fase oversold market, saham berbasis komoditas sering menjadi kandidat rebound cepat ketika tekanan jual mulai mereda. Meski sebelumnya perdagangan sempat ditutup di angka Rp3.500, namun pergerakan saham ini diproyeksikan akan berada di level Rp3.605 — Rp3.710.
ADRO – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
Dalam kondisi pasar yang sedang mencari stabilitas, saham seperti ADRO cenderung tetap diperhatikan investor institusi. Selain itu, ADRO relatif lebih resilien dibanding saham growth berbeta tinggi karena ditopang karakter bisnis berbasis sumber daya dan arus kas yang kuat.
Meski sebelumnya perdagangan sempat ditutup di angka Rp2.520, namun pergerakan saham ini diproyeksikan akan berada di level Rp2.570 — Rp2.646.
BBCA – PT Bank Central Asia Tbk
Saat tekanan panic selling mulai berkurang, saham BBCA biasanya menjadi salah satu yang pertama mengalami normalisasi karena fundamental kuat dan persepsi risiko yang lebih rendah dibanding mayoritas saham lainnya.
Kemudian, BBCA juga tetap menjadi salah satu indikator utama arah dana asing di pasar Indonesia. Meski sebelumnya perdagangan sempat ditutup di angka Rp6.100, namun pergerakan saham ini diproyeksikan akan berada di level Rp6.222 — Rp6.344. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com






