Mitrapost.com – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto mengatakan bahwa rencana terkait ekspor listrik ke Singapura belum dapat dimulai tahun ini.
Dalam hal ini, pembatalan tersebut dilakukan berdasar pada pelaksanaan kebijakannya yang juga membutuhkan waktu pembangunan infrastruktur hingga mencapai 1,5 tahun.
“Tidak (bisa dilakukan tahun ini). Bangun fasilitasnya butuh waktu setidaknya 1 sampai 1,5 tahun untuk diimplementasikan,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, dikutip dari Detik Finance, Kamis (11/06/2026).
Kemudian terkait dengan perkembangan rencananya, Airlangga menjelaskan bahwa pihak pemerintah masih terus melakukan evaluasi secara teknis bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
“Saya pikir untuk hal ini, kami masih evaluasi dengan Menteri ESDM. Harapannya, saat pertemuan pemimpin tadi, kita bisa finalisasi implementasi dari MoU (Memorandum of Understanding) yang sudah ditandatangani tahun lalu,” jelasnya.
Perlu diketahui sebelumnya, Pemerintah RI telah menyepakati kebijakan berupa ekspor listrik 3 gigawatt (GW) ke Singapura yang secara resmi diumumkan dalam pertemuan Leaders’ Retreat antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong.
Setelah pelaksanaan pertemuan itu, Bahlil menyebut bahwa total investasi ekspor listrik yang direncanakan kedua negara tersebut mencapai 10 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
“Total investasinya minimal dalam perhitungan kami yang kami sudah bangun ini sekitar 10 miliar dolar AS, minus kawasan industri,” ucap Bahlil usai pertemuan antara Prabowo dan Lawrence Wong, Senin (16/06/2025). (*)

Redaksi Mitrapost.com


