Mitrapost.com – Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto, melakukan pengungkapan terkait praktik manipulasi laporan ekspor (underinvoicing) yang menyebabkan negara kehilangan potensi penerimaan hingga Rp16.220,51 triliun selama 34 tahun terakhir.
Dalam hal ini, Presiden Prabowo mengatakan bahwa temuan tersebut berdasar pada data dari perdagangan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diolah secara resmi oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN).
Menurutnya, adanya praktik tersebut telah menjadi salah satu penyebab kekayaan Indonesia yang terus mengalir ke luar negeri, meskipun negara memiliki sumber daya alam yang melimpah.
“Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB, kita telah rugi US$908 miliar (dolar Amerika Serikat/AS) selama 34 tahun atau Rp16 ribu triliun,” ujar Prabowo di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dilansir dari CNN Indonesia.
Presiden Prabowo juga menjelaskan terkait dengan fenomena underinvoicing yang terjadi ketika pelaku usaha melaporkan nilai atau volume ekspor lebih rendah dibandingkan kondisi sebenarnya, hingga mengakibatkan sebagian keuntungan tidak tercatat dan berpotensi mengurangi penerimaan.
“Yang terjadi adalah yang disebut underinvoicing atau laporan palsu. Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi,” jelasnya, dikutip Kamis (25/06/2026).
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyoroti derasnya arus keluar kekayaan nasional di mana keuntungan sekitar 436 miliar dolar AS atau Rp7.790,01 triliun dalam 22 tahun terakhir, justru memperlihatkan dana keluar di periode yang sama mencapai 343 miliar dolar AS. (*)

Redaksi Mitrapost.com






