Mitrapost.com – Terungkap ruang misterius diduga bunker di sekolah swasta kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ruangan yang sebelumnya terkunci itu ternyata bukan bunker, melainkan basemen.
Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Selatan Ipda Alpino De Tech menyebutkan, basemen tersebut terhubung dengan sebuah ruangan. Meski demikian, tidak ditemukan barang-barang berbahaya di dalam ruangan tersebut.
“Sebetulnya itu bukan bunker, melainkan basemen yang terhubung dengan ruangan,” kata dia, Selasa (11/8/2026), dikutip Detik.
“Jadi basemen ada tangganya, terhubung dengan ruangan, itu juga sudah dicek. Tidak ada temuan,” lanjut dia.
Pengecekan dilakukan polisi bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri dalam pengembangan temuan ratusan senjata di ruangan eks ketua yayasan. Kali ini, pihaknya memastikan tidak ada barang berbahaya lain di sekolah tersebut.
“Tadi sudah diperiksa oleh pihak Puslabfor, bagian DNA dan senjata juga sudah dicek. Kemudian, kami buka police line-nya agar lokasi bisa dimanfaatkan kembali oleh pihak yayasan sesuai ketentuan,” tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, heboh penemuan 995 senjata di sekolah swasta kawasan Pondok Pinang beberapa waktu lalu. Kejadian berawal saat ruangan tersebut hendak digunakan untuk kebutuhan siswa pada bulan Juli 2026, namun ditemukan ratusan senjata, termasuk amunisi dan sejumlah aksesori yang lainnya.
“Jadi pada tanggal 10 dan tanggal 11 bulan Juli, hampir satu bulan yang lalu, kami menemukan ada 995 pucuk senjata. Di dalamnya ada senjata api, termasuk ada amunisi dan juga beberapa aksesoris senjata yang lain,” kata Kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto, Kamis (6/8/2026).
Penemuan senjata kembali terjadi pada Rabu (5/8/2026) malam. Tak hanya senjata, ditemukan pula narkoba dan beberapa rekaman video bermuatan pornografi.
“Kemudian pada tadi malam, hari Rabu gitu ya, hari Rabu tadi malam kami menemukan kembali beberapa senjata. Termasuk juga menemukan narkoba, dan menemukan CD porno,” ujarnya.
Selain senjata, pihak sekolah juga menemukan ruangan seperti bunker yang masih terkunci rapat.
“Masih ada satu ruangan seperti bunker yang itu semua terkunci rapat, kami tidak bisa masuk ke sana,” kata Hermawanto.
“Kami juga akan meminta kepada aparat untuk tolong bantu kami untuk membuka ruangan ini karena kalau kami khawatir ada risiko hukum gitu kan, maka kami meminta aparat untuk membukanya. Jadi kami ingin bunker ini juga dibuka kemudian,” tuturnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






